Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2016

Sabda Alam

Gambar
Laksana mengejar sang mentari terbit Boleh dikata menyongsong di cahaya pagi Terpusat mata memandang cakrawala Harapan jiwa menuju suatu kata Bahagia Ketika jiwa menyatu dalam gema suci Sebuah alunan kalimat sabda alam Badai bertubi seakan menjadi sahabat Penimang damai sang mualim bijak Tak tersirat gentar menatap gulungan air Semua terasa lantunan bait bait cinta Badai menggagahkan diri dengan kesombongan Terbalas senyum teduh penuh syukur Bibir terus lirih membawakan syair ilahi Memuja dan menyanjung sang khalik Mendamaikan maya pada Menenangkan butir butir gemericik asa Menjadikan cinta penebar bahagia Oh badai yang besar Tiada kah engkau hanya sebuah pertunjukan Menguatkan iman akan yang ku puja Sang pengelola rasa yang maha perkasa Engkau hanyalah lukisan alam Sebagai sabda alam bagiku dan semesta Batu licin, 29 September 2016

Bingkisan syukuran Tujuh bulanan

Gambar
Sudah hampir sebulan lebih saya jarang otak atik blog, selain memang bukan penulis profesional yang mampu menelurkan ide ide secara cepat bahkan setiap hari, kadang rasa malas dan beberapa kesibukan telah mengambil alih pikiranku sehingga ruang untuk memainkan jari pada font font untuk blogging terpenuhi kepadatan aktifitas, kepadatan iya kepadatan sebuah usaha dalam pikiran agar kesibukan mondar mandir kesana kemari seolah menjadi sebuah kesibukan yang luar biasa walau hanya sekedar duduk bersila menghabiskan sebotol air mineral dan sebungkus kuaci. Aku ingat beberapa hari yang lalu saya bertemu dengan seorang yang aku rasa mampu membuka cakrawala pikiranku terhadap peran Allah dalam setiap hela nafas ini, lagi lagi peran Allah, iya walau kadang kita sudah paham betul apa peran Allah terhadap kita tapi kadang kita masih lupa dan selalu mendewakan (maaf saya jadi horor kalau bicara menuhankan) kemampuan kita sendiri terlebih masih juga kita merendahkan diri dengan mengemis bantuan pada...

Secangkir Syukur

Gambar
Seperti pagi pagi biasa di hari hari yang telah bergulir berurutan dari minggu hingga sabtu, pagi terbangun tanpa di temani aroma seduhan kopi yang biasanya beredar meluas pada sosial media para khalayak ramai yang begitu nikmat menyuguhkan gambar kopi berasap di paginya yang di buat secerah nafsu mereka, pagi ini tak ada kopi tersaji diatas meja depanku duduk bukanlah karena kemelaratan yang mungkin jarang penikmat kopi sadari dipaginya yang didesain ruar biasa di balik tirai tembok pemisah beberapa hingga rombongan para kaum melarat yang setiap orasi menggema selalu tersebut kaum termarjinalkan, kaum bawahan, akar rumbut, miskin, buruh hingga mungkin proletar bahkan kaum wong cilik, tapi kadang heran juga, kenapa semangat itu menggema seakan akan penyuara itu begitu paham apa itu penderitaan oleh kemelaratan bahkan seolah olah penjiwaan seni peran yang begitu kental tapi dalam sepak terjangnya mereka justru eksklusif dg hegemoni kelompoknya tanpa tercermin komunitas yang mereka katan...