Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2016

Seperti semula

Kuncup merekah membawa simpony Senandung bait petuah sang induk Mengalir menyusuri genangan danau Rumbai kelopak ganggang rawa rawa Angin meniup seruling bambu kering Menyirat gersang bahasa kalbu Setetes dahaga pahit terasa Panas terik kerongkongan mengering Hujan rintik berembus harum tanah Membahasahi jengkal kebun bercambah Kering keriput sayup pipi merona Perlahan basah tersapu rintik Lambaian kepergian mengeringkan mata Setetes air membasahi bumi Deru bayu semakin menipis Kesendirian menanti hati Tak kan pernah dinanti Hingga batas ujung jalan Lambaian pagi menuju senja Berselimut cinta Semua kembali pada tatanannya Kembali seperti sedia kala Kembali pada masa masa semula Bersimpuh senyum merekah mawar Tanah tinggi, 26 April 2016

Lambaian senja

Teriakan elang memekik Memberi kabar duka nestapa Membawa riuh tangis Menyampaikan kepedihan pilu hati Saat mentari pagi merona Semua bersejajar dalam tawa Beriring memetik madu dunia Menorehkan cerita indah dalam bait masa Bayu berhembus membawa hangat Mengalunkan simponi rasa Bersama suka ria menghitung asa Memanjakan raga, dalam semua dimensi Semua itu tinggal kenangan Saat kau melambai lebih dulu Kau penuhi janji hidupmu Kau lengkapi manis hidupmu Di senjamu kau sudah cukupkan Rasa manis cinta pengharapan Kau tinggalkan senyum Sebagai kenangan sebuah kebersamaan Berita duka dari Banyuwangi Tanah tinggi, 25 April 2006

Keserakahan Perut

Aku hanya lelaki Mengejar ambisi naluri dengan hati Tak pernah bermimpi bertahta berlian Karena yakinku lebih besar pada sang Mahakaya Tempatku berkarya tak pernah teragungkan Bukan keenggenan karena memang hanya tempat singgah Tak peduli gemerlap gagah atau hanya reot tak berhias Tempat itu hanya simbol Aku hanya peduli pasion Bagiku persahabatan dalam keramahan adalah berlian teragungkan Tapi keangkuhan ambisi menumpuk pundi Realita yang selalu hadir dirumah itu Semua berbusa berkata mutiara Tapi gestur tetap berambisi perut kenyang Tangan kiri menunjuk senyum tapi sang kanan terus mengkoyak batas pribadi Memenuhi kantong kantong keserakahan Rumah dipermegah dari muka Tapi dikeruk diambil puing untuk memupuk perut Berlagak jendral penuh ramah senyum Berhati iblis menikam kebenaran. Tanah tinggi, 24 Agustus 2016