Secangkir Syukur
Seperti pagi pagi biasa di hari hari yang telah bergulir berurutan dari minggu hingga sabtu, pagi terbangun tanpa di temani aroma seduhan kopi yang biasanya beredar meluas pada sosial media para khalayak ramai yang begitu nikmat menyuguhkan gambar kopi berasap di paginya yang di buat secerah nafsu mereka, pagi ini tak ada kopi tersaji diatas meja depanku duduk bukanlah karena kemelaratan yang mungkin jarang penikmat kopi sadari dipaginya yang didesain ruar biasa di balik tirai tembok pemisah beberapa hingga rombongan para kaum melarat yang setiap orasi menggema selalu tersebut kaum termarjinalkan, kaum bawahan, akar rumbut, miskin, buruh hingga mungkin proletar bahkan kaum wong cilik, tapi kadang heran juga, kenapa semangat itu menggema seakan akan penyuara itu begitu paham apa itu penderitaan oleh kemelaratan bahkan seolah olah penjiwaan seni peran yang begitu kental tapi dalam sepak terjangnya mereka justru eksklusif dg hegemoni kelompoknya tanpa tercermin komunitas yang mereka katanya perjuangkan, bahkan sebuah tim yang didesain sebagai orang terdekat sebagai pelita harapan bagi kaum melarat justru dalam mendesain programnya hanya duduk dan tidur nyenyak di hotel hotel tempat tempat menyenangkan dan membahas seputar metode analisa kemelaratan dg inventarisir masalah masalah perut, tapi tak jarang hasil akhir hanya penyerapan anggaran belaka dan si melarat tetap menggendong keranjang memunguti sampah bekas sebuah konser amal, ia konser amal tapi yang real amal sampahlah yang nampak. Kopi memang bukanlah teman favoritku di pagi hari walau sebagian kaum disana banyak menjadikan kopi sebagai inspirasi yang menurutku hanya kopi dari tumbuhan yang ditumbuk halus di campur gula atau tambahan lainnya, memang imajinasi manusia memainkan perasaannya sendiri begitu kuat, pembenaran dan apalah itu sudah pada wajarnya jadi suguhan, inspirasi bagiku bisa saja datang dari mana saja air dingin di pagi hari, dan alam sekililing adalah kitab suci tersirat yang terhampar luas sebagai inspirasi.
Terlalu banyak majas majas kata pada benakku pagi ini, ketika pikiranku menerawang jauh akan sebuah makna " menjadi manfaat " ia makna yang beberapa pagi ini selalu hinggap di benakku, atau aku juga sedang berusaha melakukan pembenaran pada pola pikirku yang mungkin berbeda atau iri dengan beragam kebiasaan mereka, tapi entahlah yang pasti menjadi manfaat bukan hanya untuk sekedar kopi yang katanya bermanfaat untuk inspirasi, tapi bukankah hidup kalau hanya sekedar hidup, ilalang saja hidup tanpa berpindah tempat sanggup bermanfaat bagi alamnya, kenapa manusia hanya mencari manfaat hingga sedikit yang berfikir menjadi manfaat, atau pola susunan pemikiranku begitu terkerucut bahwa menjadi manfaat harus membuat perubahan perubahan, kadang tidak sadar kita berada di bumi ini dg manfaat yang dalam satu paket walau tak terasa sekalipun.
Semakin memikirkan membuatku sadar aku kekurangan sebuah bumbu untuk menjadi manfaat yaitu sebuah syukur, aku tidak berani menyalahkan pemikiranku karena memang dia bebas, tapi kadang aku lupa bahwa ada ambisi yang juga sangat perlu aku terus evaluasi dan kendalikan sedemikian rupa, perbanyak syukur adalah hal yang sering berseliweran hingga kadang hanya jadi angin lalu ketika rasa ambisi terus menggebu, keberadaanku saat ini bolehlah belum menjadi harapan besar untuk sebuah cita citaku yang tentunya mewujudkan diri menjadi sebuah kebermanfaatan , tapi mungkin aku tidak tau diseberang sana banyak mata menilai bahwa disini begitu terlihat bergairah menelurkan manfaat manfaat kecil yang suatu saat akan terakumulasi jadi sebuah manfaat yang luar biasa, kembali pada sebuah syukur dan rasa sadar akan cengkraman sang pencipta, kita disini tidaklah kebetulan tapi sebuah jalan yang telah di desain indah...
Alhamdulilahirobbil 'alamin.
Muara baru 19 September 2016
Komentar
Posting Komentar