Keserakahan Perut
Aku hanya lelaki
Mengejar ambisi naluri dengan hati
Tak pernah bermimpi bertahta berlian
Karena yakinku lebih besar pada sang Mahakaya
Tempatku berkarya tak pernah teragungkan
Bukan keenggenan karena memang hanya tempat singgah
Tak peduli gemerlap gagah atau hanya reot tak berhias
Tempat itu hanya simbol
Aku hanya peduli pasion
Bagiku persahabatan dalam keramahan adalah berlian teragungkan
Tapi keangkuhan ambisi menumpuk pundi
Realita yang selalu hadir dirumah itu
Semua berbusa berkata mutiara
Tapi gestur tetap berambisi perut kenyang
Tangan kiri menunjuk senyum tapi sang kanan terus mengkoyak batas pribadi
Memenuhi kantong kantong keserakahan
Rumah dipermegah dari muka
Tapi dikeruk diambil puing untuk memupuk perut
Berlagak jendral penuh ramah senyum
Berhati iblis menikam kebenaran.
Tanah tinggi, 24 Agustus 2016
Komentar
Posting Komentar