Altruisme : Ketika Empati Menjadi Hal yang tidak Bijak

 

Sumber: Kompas.Com

Berempati terhadap orang lain dengan memberikan perhatian dan bantuan adalah sebuah hal yang baik, bahkan semua ajaran di kehidupan ini mengajarkan hal tersebut, tapi berempati kepada orang lain yang berlebihan hingga lupa dan tidak bisa mengukur empati tersebut terhadap kemampuan diri dan dampak yang timbul adalah sebuah sikap yang tidak baik dan merugikan diri sendiri. sikap tersebut dalam istilah psikologi dikenal dengan Altruisme.

Altruisme merupakan suatu sikap atau naluri dimana seseorang memperhatikan dan mengutamakan kepentingan dan kebaikan orang lain di atas kepentingan dirinya. Altruisme sendiri berkebalikan sifatnya dengan sifat egois yang lebih mementingkan diri sendiri dibanding kepentingan orang lain, Seseorang yang melakukan altruisme disebut juga sebagai altruis. Segala kebaikan yang dilakukan oleh seorang altruis biasanya muncul secara tulus tanpa adanya rasa pamrih di dalamnya. Meski demikian sikap ini sangat terpuji serta dapat berdampak positif terhadap masyarakat luas, altruisme sendiri juga dapat berdampak buruk terhadap seseorang jika dilakukan secara berlebihan.

Altruisme merupakan istilah modern dari kata Empati, kata ini sendiri pertama kali diciptakan oleh seorang filsuf bernama Auguste Comte. Kata altruisme ini berasal dari bahasa Perancis yaitu Autrui atau dalam bahasa Latin disebut juga sebagai Arteri yang memiliki arti orang lain. Dari sini dapat dipahami bahwasannya kata ini menggambarkan orang lain di luar dirinya sebagai fokus utama. Altruisme sebagai perilaku yang dilakukan seseorang, semata-mata untuk kebahagiaan orang lain. Sifat dan perilaku ini diperkuat dengan keinginan serta tekad yang dimiliki seseorang dalam mencapai suatu tujuan mensejahterakan orang lain.

Bagi beberapa orang hal ini sulit dipahami, sebab apa yang akan seseorang dapatkan dengan berlaku demikian. Terlebih jika seseorang melakukan perilaku ini semata membantu dan bukan karena merasa bahwa hal ini sebagai sebuah kewajiban, altruisme juga dikenal sebagai perilaku yang dilakukan tanpa pamrih atau tanpa mengharapkan imbalan.

Altruisme dapat menjadi keadaan pikiran sesaat atau menjadi perilaku permanen dan value hidup seseorang. Pada intinya altruisme merupakan suatu pikiran yang baik dan didorong oleh perasaan prihatin terhadap orang lain. Kepedulian besar yang dimiliki seseorang untuk mensejahterakan kehidupan orang lain, serta dalam beberapa kasus tertentu, ditemukan bahwa perilaku ini dapat membahayakan Kesehatan dan kesejahteraan dirinya sendiri. Sebab bahwa hal yang berlebihan tak akan berdampak baik, begitu juga dengan perilaku ini. Mengapa seseorang dapat begitu mementingkan kepentingan orang lain dibandingkan dirinya sendiri?

Hal ini biasanya terjadi tanpa disadari, sebenarnya kehidupan sehari-hari dipenuhi dengan tindakan altruistik kecil yang berulang, dari menahan pintu untuk orang asing hingga memberikan uang kepada orang yang membutuhkan. Kisah-kisah dalam berita juga sering kali berfokus pada kasus-kasus altruistik yang lebih besar lagi, seperti Ketika seorang pria yang menyelam ke sungai yang sedingin es hanya untuk menyelamatkan orang asing yang tenggelam atau seorang pemberi dana yang memberikan uang jutaan rupiah kepada badan amal setempat. Beberapa contoh lain yang mencerminkan sifat Altruisme diantaranya:

  1. Saat seseorang melakukan sesuatu dalam membantu orang lain tanpa mengharapkan imbalan.
  2. Saat seseorang melupakan hal-hal yang dapat membawa keuntungan pribadi jika menimbulkan biaya bagi orang lain
  3. Saat seseorang membantu seseorang meskipun terdapat biaya atau risiko pribadi yang harus ditanggung
  4. Berbagi sumber daya dengan orang lain bahkan saat diri sendiri sedang menghadapi kesulitan bahkan kelangkaan.
  5. Menunjukkan kepedulian terhadap kesejahteraan orang lain.

Pada dasarnya, segala kebaikan yang dilakukan tanpa pamrih dalam membantu orang lain adalah bentuk tindakan terpuji. Dari beberapa penjelasan juga sudah diketahui bahwa tindakan ini akan mendatangkan keuntungan juga bagi para pelakunya, baik itu secara sosial atau psikis. Selain itu, altruisme juga dikaitkan dengan kesehatan fisik dan yang lebih baik, serta angka harapan hidup yang lebih tinggi. Meski demikian, perlu diingat bahwa naluri menolong orang lain harus diimbangi dengan naluri untuk bertahan hidup. Ketika altruisme dijalankan tanpa rem, bisa-bisa sikap ini malah akan berdampak buruk pada diri sendiri. Misalnya jika kamu tidak dapat berenang, tetapi memaksakan diri ingin membantu orang yang tenggelam.

Sikap altruisme seperti contoh diatas merupakan sikap yang  berlebihan dan tidak bijak, korban yang ingin diselamatkan jadi tidak tertolong dan kamu pun turut menjadi korban. Jika kamu merasa pernah atau bahkan sering berakhir merugi karena menolong orang lain, mungkin kamu perlu mengubah pola pikir. Ingat bahwa dirimu sendiri juga penting dan perlu diutamakan dibanding orang lain. Namun, jika kebiasaan ini sulit dihentikan atau bahkan orang lain hingga mengingatkan bahwa kamu juga perlu memperhatikan diri sendiri, maka kamu perlu untuk melihat kembali sikapmu dan kalau perlu berkonsultasi dengan profesional dibidang psikologi. Dengan demikian diharapkan tindakan altruisme yang kamu lakukan tetap berbuah positif, tanpa merugikan diri sendiri.

Referensi: 

Adinda, R. Altruisme. pada Gramedia.com

Komentar