Patih Gotawa : " Busana, Tanda Pangkat dan Ketaatan Umat "
Patih Gotawa
Ramanda Raden Paksi Jaladara
Suami Dewi Mantili
adalah Patih Mandra guna kerajaan Madangkara
yang dipimpin oleh Prabu Bama Kumbara
Dikisahkan tatkala di Tanah Jawa Dwipa terjadi gesekan antara keluarga besar keturunan Raja masyhur ternama Hayam wuruk
raja Majapahit, dimana Bhre Wirabumi yang menetap di pamotan majapahit
kedaton timur ingin merebut takhta majapahit dari tangan saudaranya
prabu wikramawardhana pengganti Prabu Hayam wuruk. Mereka saling
berebut pengaruh dan mencari dukungan pada nagari tetangga termasuk
negeri yang terkenal akan rajanya yang Digdaya yaitu Negeri Madangkara
dg raja tampan, gagah dan sakti mandra guna Prabu Brama kumbara.
Pada suatu hari utusan pembawa pesan prabu Brama kumbara pulang dg
berdarah darah, dia melaporkan pesannya untuk Bhre wirabumi belum
disampaikan karena mereka di hadang oleh sekelompok pasukan Tumenggung
Bayan, mereka meminta surat untuk Bhre wirabumi tapi utusan madangkara
tidak berkenan menyerahkan maka terjadilah adu kesaktian kedua pasukan
itu, pasukan madangkara kalah dan pimpinan utusan terbunuh sehingga
salah satu prajurit lari menyelamatkan pesan tsb dan kembali ke
Madangkara. Prabu Brama marah besar dan berniat menghukum temenggung
Bayan, serta tugas menyampaikan pesan diserahkan pada patih Gotawa, adik
ipar prabu Brama sekaligus patih madangkara.
Patih Gotawa
bersama sang istri yg tidak lain Dewi mantili adik Prabu Brama akhirnya
berangkat ke Pamotan untuk menyampaikan pesan khusus Prabu Brama kepada
Bhre Wirabumi, mereka sepakat menanggalkan identitas kebangsawanan dan
menyamar sebagai pengembara agar tidak dikenal oleh masyarakat guna
memperlancar menjalankan tugas sebagai duta madangkara.
" Dg busana pengembara seperti ini kita akan lebih leluasa kakang " ucap Dewi mantili pada suaminya.
" iya benar dinda, tapi kamu harus terima jika orang2 bahkan rakyatmu
sendiri tidak mengenalimu dan menghormatimu. Karena sesungguhnya mereka
mengenal kita dan menghormati kita bahkan takut sama kita karena
memandang apa yg kita pakai dan pangkat serta kedudukan yg kita miliki "
jelas patih Gotawa
" iya kakang, memang begitulah yang berlaku.
Tapi dg menyamar begini sekaligus kita bisa melihat permasalahan rakyat
kita, sehingga kita bisa melihat langsung, bukan hanya dari laporan2
saja, dan mereka akan terbuka apa adanya tidak takut dg kita. " jawab
dewi mantili.
Akhirnya mereka berdua berangkat menjalankan tugas negara sekaligus melihat kondisi rakyat madangkara.
Makna yang tersimpan dalam cerita diatas sangatlah mendalam, kadang kita harus menyadari sebagai manusia sosial, apa lagi kita menyandang sebuah amanah dan tanggung jawab kita akan disegani dan di hormati oleh khalayak, hingga mereka takut tertunduk - tunduk, tapi perlu kita sadari semua itu hanya karena apa yang kita kenakan, tanda pangkat apa yang melekat pada kita. jika kita menjadi manusia biasa maka semua itu akan sirna, ada pepatah bilang jika kita belum jadi apa - apa saudara kitapun tak mau menganggap kita saudara tapi jika kita sudah berhasil dan sukses orang lainpun akan mengaku saudara kita.
Mereka segan pada kita
karena melihat apa yg kita sandang,
tanda Pangkat
dan atribut lainnya,
jika kita tidak jadi apa - apa
saudara sendiri
pun kadang tidak mengakui kita sebagai saudara,
tapi jika kita sudah
berhasil orang lain pun akan mengaku saudara kita...
Di dunia ini banyak hal berlaku, kita harus mampu berdiri pada beberapa pokok pohon kehidupan, kita harus bijak menyikapi setiap permasalahan yang ada, peran terpenting kita adalah memberi manfaat pada dunia, tak perlu kita silau mata dengan pujian manusia, ada tanggung jawab yang Tuhan amanahkan buat kita, tanggung jawab menjadi pemimpin di muka bumi ini.

Komentar
Posting Komentar