SARUNG PRENEUR " Wirausaha Ala Santri Ditengah Masifnya Globalisasi "
Di era Globalisasi seperti sekarang ini salah satu masalah mendasar yang
hingga kini menjadi tantangan terbesar bangsa Indonesia adalah masalah
pembangunan ekonomi. Pembangunan ekonomi akan memberikan pertumbuhan dan
kesejahteraan ekonomi suatu bangsa. Namun demikian, Indonesia tengah menghadapi
problem yang sangat kompleks dalam masalah pembangunan ekonomi, yang
berimplikasi pada munculnya kesenjangan ekonomi di berbagai sektor. Hal ini disebabkan
karena pembangunan tidak mampu menyerap potensi ekonomi masyarakat, termasuk
angkatan kerja sebagai kontributor bagi percepatan pertumbuhan dan
kesejahteraan ekonomi tersebut.
Problem yang dimiliki bangsa
Indonesia itu antara lain adalah pertumbuhan ekonomi yang tidak dibarengi
dengan kesempatan tenaga kerja yang merata, sementara angka produktif penduduk
Indonesia tidak berbanding lurus dengan besarnya jumlah peluang usaha dan
investasi di Indonesia. Ditambah lagi banyaknya peluang dan kesempatan investasi
tersebut tidak banyak didukung oleh kemampuan sumber daya manusia yang kualified. Akibatnya timbul kesenjangan
antara kebutuhan lapangan pekerjaan dengan kesempatan yang diberikan oleh
pelaku usaha kepada angkatan kerja, yang pada akhirnya menyebabkan timbul dan
banyaknya pengangguran.
Banyaknya generasi muda baik para
penyandang gelar Sarjana hingga tak tertinggal para santri alumni Pondon
Pesantren yang menjadi pengangguran, semua ini menjadi salah satu faktor
lesunya pertumbuhan ekonomi Nasional. Para generasi muda yang seharusnya
menjadi Agen Of Change terhadap masa
depan bangsa kedepan justru menjadi beban Negara. Banyak para generasi muda
yang masih berfikir ketika lulus kuliah maupun sekolah bercita – cita ingin
menjadi karyawan, berusaha berjuang untuk bisa bekerja di perusahaan yang bonafit, berlomba – lomba memperkeren Curiculum vitae agar dapat bekerja diperusahaan yang
diinginkan. Sangat sedikit para generasi muda yang mempunyai pemikiran untuk
membuka usaha sendiri untuk memenuhi kebutuhan ekonomi pribadinya hingga upaya
berperanserta meningkatkan pertumbuhan ekonomi bangsa.
Santri yang selama ini kita kenal
sebagai para pelajar atau pencari ilmu khususnya ilmu agama di pesanten –
pesantren adalah bagian dari generasi muda yang memikul tanggung jawab masa
depan bangsa ini, mau tidak mau suka tidak suka ada pada pundak mereka jualah
beban upaya peningkatan pertumbuhan ekonomi bangsa yang hingga saat ini menjadi
tantangan terbesar bangsa ini terlebih dengan bergulirnya era globalisasi, era
pasar bebas dan era keterbukaan informasi seperti yang sedang menjangkiti
segala lini kehidupan. Banyak anggapan di masyarakat selama ini bahwa santri
hanya fokus memperdalam ilmu agama sehingga jarang yang memiliki kontribusi
dalam upaya peningkatan ekonomi masyarakat, sehingga banyak rumor yang tidak
sehat melabeli santri hanya paham tentang mengaji dan berceramah, lulus dari
pesantren hanya jadi guru ngaji, dan mubaligh.
Stigma tersebut sudah saatnya di eliminir
dengan ikhtiar nyata khususnya ikhtiar dalam upaya peran serta peningkatan
ekonomi masyarakat dengan berwira usaha.
Pengembangan semangat wirausaha ala
santri penulis rasa sangat penting untuk ditanamkan kepada para santri di
setiap pondok pesantren baik yang menyelenggarakan sistim pesantren salafiyah maupun modern. Secara umum di masyarakat masih mengalami ketakutan dalam
memulai untuk berwira usaha, banyak faktor yang memicu ketakutan tersebut
seperti Modal, sektor usaha apa yang hendak dijalankan, persaingan, minim
pengalaman dan masih banyak lagi. Ketakutan tersebut juga dialami oleh para
generasi muda dalam berwira usaha khususnya para santri, tapi di era
keterbukaan informasi seperti sekarang ini banyak pelajaran yang bisa para
santri ambil dari para pengusaha muda yang sedang naik daun seperti Nadim
makarim dengan Gojek, Ferry unardi dengan Traveloka, Andrew darwis sang pendiri
Kaskus dan masih banyak lagi, mereka adalah para generasi muda yang memilih
keluar dari comfort zone dengan memulai bisnis untuk menggapai cita
citanya.
Sarung preneur adalah sebuah ide
untuk menjawab tantangan globalisasi, ide sarung preneur yang diartikan secara
harfiah sebagai sebuah wirausaha ala santri karena sarung sangat identik dengan santri khususnya
santri – santri yang bermukim di Pesantren salafiyah. Sarung preneur adalah
semangat untuk mendorong para santri keluar dari zona nyaman, memupuk
keberanian para santri untuk berwira usaha, dengan semangat yang terus
digelorakan diharapkan konsep sarung preneur mampu membawa para santri menjadi
para wirausahawan yang sukses dan sanggup berkontribusi pada masyarakat untuk
berperan serta menjawab tantangan globalisasi.
Konsep Sarung preneur bisa
diaplikasikan dalam berbagai jenis usaha ala santri, dimana semua aspek usaha
tersebut mengedepankan cirri khas dan kehidupan para santri itu sendiri, sarung
preneur adalah konsep wirausaha ala santri yang lahir dari rahim kehidupan para
santri, sarung preneur bisa menjadi ciri khas kesantrian sebuah konsep
wirausaha karena memang diambil dari kehidupan, lingkungan serta kehidupan
serta kebutuhan para santri itu sendiri. Dalam hal ini penulis memberikan
gambaran tentang berbagai tantangan serta problematika santri dan masyarakat
selama ini antara lain, kebutuhan akan sarana penunjang pendidikan bagi santri,
sarana informasi yang seimbang bagi santri dan masyarakat, kebutuhan bahan
pokok bagi santri dan masyarakat serta kebutuhan lain yang menjadi tantangan
untuk dipenuhi, atas dasar itu konsep santri preneur bisa menjadi solusi atau
ikhtiar para santri untuk memenuhi kebutuhan – kebutuhan tersebut.
Konsep Sarung preneur dapat di
aplikasikan pada berbagai sektor usaha antara lain sebagai berikut :
1.
Sarungsantri.com
Sarungsantri.com adalah usaha sebuah situs yang bisa dikelola para santri sebagai
sarana informasi media kekinian, bisa diisi dengan berbagai konten informasi
tentang dunia pesantren, media social ala santri, sarana dakwah toko online ala
santri yang menjual berbagai keperluan santri seperti, kitab kuning, baju –
baju muslim dan lain sebagainya. Selain sebagai sarana berwirausaha konsep
sarung preneur berbasis internet ini juga bisa dijadikan counter bagi maraknya efek negatif internet dan media social
dimasyarakat khususnya bagi dunia pesantren.
2.
Aplikasi Sarung
Aplikasi sarung adalah konten yang
dirancang khusus yang bisa ditempatkan di Andoid, Ios, dan windows, dimana konten
ini bisa berisi informasi seputar santri hingga bisnis online ala santri.
Dengan adanya aplikasi tersebut diharapkan para santri memiliki konten sendiri
baik untuk sarana belajar, informasi maupun berbisnis berbasis media social dan
internet.
3.
Sarung Mart
Sarung Mart adalah konsep wirausaha
berbasis display toko baik dalam bentuk minimarket maupun toko sederhana, bisa
dikonsep toko online maupun offline. Sarung mart menawarkan solusi bagi santri
untuk berkreatifitas dalam usaha jual beli baik offline maupun online, dimulai
dari pemenuhan kebutuhan mendasar santri dan dunia pesantren hingga kebutuhan
masyarakat pada umumnya.
4.
Sarung Farm
Sarung Farm adalah konsep wirausaha
ala santri berbasis akuakultur (perikanan)
dan agrikultur (pertanian), dimana
konsep ini menawarkan para santri untuk mampu berwira usaha di bidang tersebut
secara kreatif dan inovatif misalnya dengan budidaya pertanian system hidroponik, budidaya ikan system akuaponik dan lain sebagainya.
5.
Sarung solution
Konsep sarung solution adalah inovasi
para santri dalam berwirausaha khusunya dibidang jasa, dimulai dari bisnis
bidang jasa yang berhubungan erat dengan dunia santri misalnya penterjemah
bahasa Arab, Bahasa Inggris, Jasa kursus, dan bidang jasa lainnya.
Semua konsep diatas bisa dijalankan
beriringan karena konsep – konsep sarung preneur diatas memiliki keterkaitan
baik dari segi kreatifitas maupun inovasi yang disesuaikan dengan era kekinian
dan tantangan globalisasi saat ini.
Untuk terwujudnya pemberdayaan
kewirausahaan santri di pondok pesantren dibutuhkan strategi dan peran serta
lembaga pesanten yang menumbuhkan kemandirian santri dengan cara memenuhi
aspek-aspek sikap kemandirian sebagai berikut:
1.
Aspek kognitif (mampu mengenal, dan memahami diri sendiri dan
lingkungannya); untuk pengembangan aspek ini biasanya dilakukan proses
pembelajaran melalui pengembangan wawasan, dalam hal pengembangan kemandirian
berarti seseorang diberi materi-materi ajar tentang perilaku kemandirian. Untuk
pembinaan aspek ini pada program santri mukim diajarkan materi tentang kewirausahaan).
2.
Aspek afektif (keberanian, mampu mengambil keputusan untuk dan oleh
diri sendiri, bertanggung jawab, pecaya diri,
optimis, sabar tawakkal, dan ikhlas );
untuk membina aspek ini
biasanya diberikan pembelajaran yang menekankan aspek perasaan (emosional),
dengan muhasabah, berdoa, ibadah
ritual, khidmat.
3.
Aspek konatif (mampu menerima diri
sendiri dan lingkungan secara positif dan dinamis,
mampu mengendalikan/mengarahkan diri
sendiri sesuai dengan keputusan itu, tekad kuat untuk tidak menjadi beban,);
untuk itu biasanya diberikan pembelajaran yang menumbuhkan motivasi
berprestasi, yakni dengan dobrak diri dan bangun diri agar ia mampu dan mau merubah karakter (akhlak).
4.
Aspek psikomotorik (mampu mewujudkan diri
sendiri (aktualisasi diri) secara optimal sesuai dengan potensi, minat, dan
kemampuan-kemampuan yang dimiliki ahli ikhtiar); untuk itu pembelajaran yang
diberikan biasanya dalam bentuk life
skill, simulasi, magang kerja.
Wirausaha
adalah sebuah ikhtiar bagi santri sebagai upaya peningkatan ekonomi bangsa
berbasis pesantren, selain itu sebagai upaya menghadapi era globalisasi yang
kian massif yang membutuhkan kreatifitas dan inovasi agar tidak tergerus dampak
negative dari kemajuan global dan mampu bersaing secara global. Sarung preneur adalah konsep ikhtiar
bagi santri untuk terjun di dunia usaha yang mampu menumbuhkan kemandirian bagi
santri dan dunia pesantren baik khususnya secara ekonomi.
Sumber pustaka:
Afzalurrahman, Muhammad
Sebagai Pedagang, Jakarta: Yayasan Swarna Bhumy, 1997.
Alma, Buchari Panduan
Kuliah Kewirausahaan. Bandung: CV Alvabeta, 2000.
Azizy, A. Qodri, Melawan Globalisasi: Reinterpretasi Ajaran
Islam (Persiapan SDM dan Terciptanya Masyarakat Madani, Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 2004
Drucker, Peter F, Inovasi
dan Kewiraswastaan: Praktek & Dasar-dasar, Jakarta: Erlangga, 1985.
Frinces, Heflin, Kewirausahaan
dan Inovasi Bisnis, Yogyakarta: Darussalam, 2004.
Kasmir, Kewirausahaan,
Jakarta: Raja Grafindo Utama, 2006
Lupiyoadi, Rambat, Kewirausahaan:
From Mindset to Strategy, Jakarta:
LPUI, 2005.
Komentar
Posting Komentar