Tambun serakah

Terbaring di peraduan sang pertiwi
Bukan tersungkur karena sangkur lawan
Tapi tertunduk karena perut tambun
Besar berisi keserakahan perut..
Mulut berbusa bercerita panjang
Tentang keadilan, tentang kelaparan
Retorika perubahan entaskan melarat membuih putih diatas gelas arak keras
Hati bengis niat mencekik
Kerongkongan rakyat
Yang sudah kering karena lapar
Bukan nasi sambal terasi tapi hanya penceritaan televisi.
Muka tak pernah sama dengan pantat
Apalagi muka penuh dengan topeng,
Membuat senyum harapan palsu
Mengeruk besar melontar biji kecil
Kehausan dan keserakahan, menguasi hati dan pikiran, tak peduli si melarat menanguis darah, ia tetap berjalan menginjak martabat rakyat demi rakyat berdasi segelintir
Menangis dan mengutuk sudah menjadi basi, saatnya meringkutlk dalam sangkar besi karena tak mampu ramah pada pertiwi demi kesenangan perut sendiri..
Lembeh,  1 Februari 2017

Komentar