Perjalanan menuju perubahan

" Kamu tau apa yang abadi didunia ini sayang ??" Tanya seorang bapak kepada sang putra, bapak itu sambil duduk di kursi goyang, iya sebuah kursi yang bisa bergoyang - goyang bila diduduki sebagian orang malah ada yang menyebut kursi malas, entah apa di balik penyebutan tersebut, sang bapak yang menikmati waktu santainya disela kesibukan kerja di sawahnya yang kian hari kian meluas membuat dia semakin sibuk. Dinikmatinya bercengkrama dengan putranya sambil bermalas - malasan di kursi malas sembari menikmati tembakau hasil ladangnya.
Di samping bapak itu duduklah bersimpuh seorang anak muda seusia sekolah lanjutan atas, dia duduk bercengkrama dengan sang bapak sembari membuka buku - buku pelajaran, iya memang itu pekerjaannya selama ini, karena memang di usianya yang masih setara dengan usia bangku sekolah.. Maksudnya usia dimana memang waktunya dipergunakan untuk sekolah, ya walau tidak bisa dipungkiri di luar sana banyak seusia dia yang sudah membanting tulang untuk bekerja memenuhi kebutuhan hidup, tapi bagi anak muda satu ini memang sudah di tata oleh orang tuanya agar diusianya itu terus memperbanyak mengambil intisari kehidupan dengan belajar dan belajar, mata dan pikiran pemuda itu fokus pada buku pelajaran di tingkatnya yang memasuki tahun kedua di sekolahnya tapi dia tetap mendengarkan perkataan sang bapak, dia jawablah sebuah pertanyaan yang dia dengar tadi, " di dunia ini tak ada yang abadi bapak, semua pasti akan berubah sesuai takdirnya, dari muda ke tua, dari kecil kebesar dari bukan siapa-siapa menjadi terkenal dan masih banyak lagi contohnya, perubahan itu sudah menjadi garis alur pelayaran kehidupan kita pak" sebuah jawaban yang menyiratkan pemahaman, baik dari pengetahuan maupun pengalaman.
Dikursi malas sang bapak mendengar dengan seksama apa yang disampaikan sang anak, bibir dan kumisnya tersimpul membentuk senyum yang terasa manis bak kopi susu di pagi hari seperti yang biasa ibu pemuda itu buatkan, jawaban sang anak begitu dia suka, dia bangga dalam hati sang anak bisa berani mengungkapkan pendapat dan asumsi yang pastinya telah dipikirkan dengan referensi dan literasi sang anak miliki, tapi ada satu pemikiran yang perlu mereka padukan agar ada persepsi yang bisa mereka samakan, akhirnya dengan lembut sang bapak sedikit menambahi diskusi mereka.
Anakku, betul sekali apa yang kau sampaikan tadi, di dunia ini memang terkesan tidak ada yang abadi karena perubahan itu sebuah keniscayaan, kamu yang muda sekarang setiap detik akan mengalami masa perubahan semakin menua, kamu sekarang duduk di bangku sekolah esok kamu akan bekerja menghidupi keluargamu seperti bapak, perubahan itu akan terus berjalan tanpa pernah bertanya kepada kita seperti sang waktu yang terus berdetak memenuhi tugasnya pada alam raya ini, oleh karena itu di dunia ini yang abadi hanyalah perubahan itu sendiri, karena dia abadi sepanjang masa , dia terus menjalankan takdirnya memberi perubahan perubahan pada alam raya ini, perubahan itu abadi dan pasti terjadi maka dari itu janganlah kita menghindarinya, jangan lari darinya, karena dia selalu datang, karena pada dasarnya bukan kita yang dihampiri oleh perubahan itu tapi kitalah yang senantiasa berjalan menghampiri setiap perubahan perubahan itu,  sang ayah berhenti sejenak menghisap tembakau dalam dalam lalu mengepulkan asap keudara, matanya jauh menerawang kedepan seolah olah membayangkan apa yang terjadi dalam setiap cerita yang dia sampaikan.
Jangan pernah terkecoh anakku, seolah olah kita diam ditempat dan perubahan itu yang menghampiri kita, sehingga kita selalu beralasan kita masih banyak waktu, kita masih banyak kesempatan, sehingga kita masih terlena dengan belaian palsu keadaan sehingga kita lupa akan segala tanggung jawab kita sebagai pemimpin pada alam raya ini, kita hidup di alam fana ini ibarat kita sedang mengendarai kendaraan kehidupan kita melaju pada jalan yang telah ciptakan, perubahan-perubahan tiap sisi kehidupan berbaris rapi di sekeliling kita mulai dari start awal kita berjalan menyusuri garis kehidupan hingga akhir perjalanan kehidupan kita nanti, setiap peristiwa-peristiwa perubahan itu berjalan pada tempatnya mengikuti sunnahnya, kitalah yang berjalan menghampiri setiap peristiwa itu setiap jengkal perjalanan kita mengalami peristiwa yang berbeda , kulit kita akan berbeda usia dan mengalamai peristiwa berbeda tiap detiknya, kita satu menit yang lalu dengan kita yang sekarang sudah berbeda, kita akan terus berjalan melewati peristiwa - peristiwa yang berbeda dan silih berganti, itulah perubahan, dia abadi ada pada tempatnya kitalah yang berjalan melewati setiap perubahan itu,.. Sang bapak berhenti,  menyudahi narasinya tentang apa yang abadi didunia ini, sambil tersenyum dia menyuruh anaknya untuk istirahat.
Ya sudah istirahat besok kan pagi pagi harus bangun untuk sekolah.. Bapak itu mengakhiri cengkrama malam dengan putranya.
Lembeh, 01 Februari 2017

Komentar