Di bangunkan sang fajar

Fajar ini seperti fajar fajar sebelumnya di bulan Ramadlan, mata enggan terpejam aku paksa terus terjaga agar subuhku tidak selalu berkawan dengan terbitnya sang mentari, kadang aku harus malu pada sang embun pagi walau tiada nampak ia mencibirkan bibir dan menyunggingkan senyum ejekan tapi malu terasa terus menemani jika sebuah kebutuhanku sendiri selalu aku terlantarkan.

Kembali pada fajar ini, aku serasa bangun dari pingsan berkepanjangan , ada satu definisi proses perjalanan hidup yang kian terpudar entah karena ketakutan rasa malu atau karena kebesaran ego congkak akan usaha sebuah pembuktian, bak lupa daratan aku dibuatnya tapi fajar kali ini menyiramkan sejuknya embun di mukaku yang layu tertidur lama aku seakan tersedak dan sadar banyak hal yang telah terlupakan, ia sebuah jalinan silaturahim yang lama tak terjalin dengan baik, entah sama siapapun, di mulai dari fajar ini aungguh sangat adil jika aku harus memulai merajut kembali benang benang silaturahim agar senantiasa terjaga.

Aku telah berjalan menyusuri setapak asa terlalu fokus kadang memabukkan aku akan hasil dari sebuah proses tanpa terasa kadang aku lupa betapa manisnya proses itu sendiri, kini saatnya terjaga dan terus berusaha bersykur akan begitu manisnya sebuah proses, berjalan seiring dengan sunnahNYA , tanpa niat melawan agar puzle kehidupan bisa tersusun tepat...

Fajar di kumbik kep. natuna 17 Juni 2016

Awienoer

Komentar