Menyapa sahabatku dari Dusun
Selayang pandang mata menerawang Memicingkan untuk mempertajam, rintihan gemericik air jatuh dari daun tatkala pagi, saat engkau menyapa di balik derasnya air sungai dengan senyummu yang selalu tersimpul seakan meruntuhkan atap bak biduk roboh terkena sang bayu, aku baru sadar tatkala beranjak fajar aku baru kembali dari begadang panjang menunggu aliran tirta penyejuk dahaga para palawija.
Tanah ini hamparan hijau , terlukis jamrud nan elok meliuk berdamping sang pelangi, dusun ini tempat kita pertama melihat fana, penuh suka cita berlari berkejaran dalam kubangan lumpur sawah yang di lain hari tempat kita mencari belut untuk di bakar bearoma kemangi, menggoda perut, membuat senyum kita selalu memancarkan bahagia, masihkah engkau ingat sahabatku ketika gedung gedung yang sekarang berdiri mencakar langit seakan menunjukkan kecongkakan pada sang semesta, sebagai tanda sebuah peradaban modern lahir, gedung ini dahulu tanah datar yang selalu kita bersama beriringan berebut bola , kadangpun beratem mewarnai sawah persahabatan kita, iya masih segar dalam ingatan, disini dulu kita bercanda bersama menikmati senja, menanti sang surya tenggelam menebar selimut malamnya.
Hamparan hijau itu kini telah berubah berliuk berukir gedung gedung tinggi dan menjulang, seakan menyiratkan kecongkakan manusia. sawah dan ladang tempat bapak kita menanam cabe buat sambal kita saat berangkat sekolah kini telah jadi rumah berderet berjejer rapi mirip tanaman cabe atau jeruk milik bapak kita dulu, mungkin inilah pengganti tanaman itu, sebuah tanaman modern sebagai pengisi perut beberapa orang yang mungkin sama fisik dengan bapak kita dulu, tapi agak tambun dengan leher berkalung dasi, entah siapa mereka yang pasti mereka bilang akan menorehkan peradaban modern pada kanvas hijau tempat kita berlari lari mengejar belalang di pinggir hutan jati kala itu.
Ketika aku terjebak hiruk pikuk lalu lalang orang penuh dengan tas berat berisikan tumpukan kertas, entah apa itu ? , aku seakan menarawang sebuah kedamaian kita saat itu, ketika persahabatan kita berselisih paham di saat sang surya memancar di ufuk timur tapi kita pasti tertawa riang menikmati ubi rebus emak kita di senja berhias kumandang azan maghrib. Kita sekarang mungkin sudah jadi manusia baru dengan beragam kesibukan dan aktifitas yang setiap detik menumpuk sebagai ejawantah perkembangan waktu yang terus berjalan.
Saat mereka atau kita berbangga dengan gemerlap wajah baru bukit bukit dan dusun kita, apakah kita juga sadar akan keseimbangan alam yang kadang terlupakan oleh kita semua.
Coretan buat sahabatku dari dusun
Muara baru, 5 Mei 2016
Komentar
Posting Komentar