Sebuah pilihan

Hari ini Minggu tiga belas maret dua ribu enam belas, saat hati ini berdebar debar menanti kelahiran sang penerus dinasti yang sekarang masih dalam kandungan istri tercinta, hari ini aku masih bergelut dengan tugas dan pekerjaan di bahtera, walau bukan sebagai navigator kapal niaga atau sebagai pelaut long liner, tapi meninggalkan keluarga demi semangat cita cita keluarga kecil kedepan adalah sebuah pilihan.

Menjadi seorang pelaut entah dalam lingkup apapun dan berada dibelahan samudera manapun harus memiliki kebesaran jiwa dan idealisme yang kuat, meninggalkan keluarga, bahkan tak jarang kita hanya mendengar kabar satu persatu dari saudara kita telah tiada mendahului kita menghadap sang pencipta, kita harus siap dengan perubahan cuaca yang ekstrim ditengah samudera, siap mental , lahir dan bathin.

Seorang pelaut harus memiliki insting, analisa yang bagus, serta sebuah keputusan yang tegas, tepat dan cepat karena situasi di samudera memerlukan itu, berbekal pelatihan pelatihan dan simulasi sistem kerja maka pelaut akan semakin tangguh di samudera banyak pepatah bilang " laut yang tenang tidak akan menghasilkan pelaut yang tangguh " hal itu sering di buat filosofi untuk memupuk kegigihan manusia.

Siap setiap saat, kapanpun dan dalam kondisi apapun aku harus siap, ini sebuah pilihan kami walau mungkin bukan kami yang memilih tuhan telah pilihkan untuj kita, terus bersyukur dan mohon ampun dan petunjuk  adalah sebuah keharusan bagi kami, karena semua yang kami tinggalkan hanya kami pasrahkan pada tuhan untuk menjaganya.

Suasana kerja yang keras. Cepat dan penuh resiko mendidik kami untuk peka terhadap alam, terhadap situasi dan relasi kerja, jika ada kelengahan akan berakibat fatal dalam sistem kerja. Semua akan berjalan harmoni jika semua anggota bertanggung jawab sesuai pos tugas masing masing.

Komentar