Rahasia yang disembunyikan sang Ibu

Suatu hari saat mentari terik, tanah berdebu beterbangan, membuat setiap matabenggan menatap langit, aku pulang dengan tas lusuh dipunggungku, sepatu penuh debu terseret bukti betapa lelahnya saat itu.

Aku sampai pada gubuk pinggir danau, begitu sejuk asri, kontras dengan jalan jalan yang kulalui sepulang sekolah tadi, iya aku memang pulang dari sekolah, entah kenapa sedari pagi banyak muka sinis penuh ejekan dari mereka disana, seakan aku ingin merobek muka mereka agar bisa tersenyum padaku.

Seperti hari hari biasa aku langsung menuju ruang makan, menyantap makan siang yang ibuku sudah siapakan, menu siang ini begitu menantang sehingga cacing cacing dalam perut ini semakin kuat menggalang masa untuk mencurahkan rasa lapar sang kian menyengat. Bukanlah menu bertahta daging dan kesempurnaan hidangan tapi menu dibalut dengan kasih sayang seorang ibu, bukti kasih bahagianya sebuah keluarga kecil bantaran danau.

Aku mencari ibuku, berkeliling rumah yang tak begitu besar ini, aku hendak menyampaikan sebuah surat dalam amplop cokelat, berkop sekolah tempat aku belajar, entah apa isinya, yang aku tau surat ini hanya untuk orang tuaku yang jelas ada larangan membukanya.

" ibu, ada surat dari kepala sekolah " sapaku pada ibu sambil mencium tangan kanannya saat aku bertemu beliau di sumur saat beliau mencuci pakaian saya.

" eh, cah bagus sudah datang, sudah makan belum ? " sambut ibuku dengan wajah penuh kaaih sayang, walau aku tau tangannya yang kasar, adalah tanda betapa keras hidupnya dalam memenuhi segala kebutuhan kami.

" sudah bu, uenak makannnya , oh iya ada sebuah surat buat ibu dari kepala sekolah " sambil menyodorkan surat tadi saya sampaikan pada ibu amanat dari sekolahku.

Ibu mengambil surat itu dan tersenyum, wajahnya begitu serius membaca surat itu, wajahnya yang tadi teduh penuh senyuman kini berubah jadi wajah yang menyuratkan kesedihan, kemarahan, dan rasa khawatir yang begitu besar, entah apa isi surat itu, tapi dari melihat air muka ibu, pasti surat itu sangat penting.

"Ibu, apakah gerangan isi surat itu ? " akupun penasaran dengan isi surat itu.

Ibuku terdiam lama, dan sepontan dia bilang, " nak, mulai besok tidak usahlah kau sekolah lagi, biar ibu yang ajari semua pelajaran kau " terang ibu dengan pelan dan lembut.

" ada apa bu, kenapa ?? Apa isi surat itu ? " saya jadi tambah bingung dan penasaran dengan isi surat itu.

" Ibu putuskan kamu belajar saja dirumah sama ibu, pak kepala sekolah bilang kamu terlalu pintar, sehingga teman temanmu ketinggalan pelajaran, jadi kepala sekolah minta kamu belajar dirumah saja , karena lamu terlalu cerdas dibanding mereka " ibu menerangkan begitu detail.

Sejak saat itu aku hanya belajar dirumah, sangat berbeda dengan pelajaran yangbaku dapat disekolah, yang begitu banyak jenisnya, dirumah aku belajar lebih fokus pada bidang yang aku sukai, ibu memberikan dasar dasar ilmu alam, berhitung, agama, dan hubungan dengan maayarakat, selebihnya ibu terus mendukung apa yang aku suka, ibu memfasiltasi semuanya, aku diajarkan berani mempraktekkan ideku dan mewujudkan cita citaku.

Hari semakin hari terus aku lalui dengan belajar dirumah, ibuku tidak pernah menyita waktuku hanya untuk belajar dan belajar, minat dan kesukaanku ibu kembangkan secara natural tanpa paksaan, waktuku istirahat dan bermain begitu cukup, tak ada beban rasanya dalam belajar.

Dimulai hari bersejarah dengan surat dari kepala sekolah itu, aku terus belajar dibawah bimbingan ibu hingga beranjak besar, sampai akhirnya aku dianjurkan merantau, dengan pesan jangan hanya cari harta, tapi carilah ilmu dan pengalaman yang banyak, dan beramalah dengan keahlian.

Pesan itu tetap aku pegang hingga kini aku sudah sukses , aku kini jadi pengusaha alat alat elektronik dengan hasil karyaku sendiri yang sudah aku patenkan, banyak karyawan yang kerja denganku termasuk teman teman sekolahku dulu, bahkan anak bapak sekolahku juga rela meninggalkan kampung dan pindah kekota bekerja dengaku. Banyak penemuan dan produk yang aku ciptakan sekarang dan diakui semua orang.

Hingga saat aku pulang dan hari kepulanganku ini adalah hari terakhir aku melihat ibu, disakitnya yang bertambah parah dan ibu mengisyaratkan padaku dan kami semua agar sabar, karena dia berkeyakinan waktunya sudah dekat, sebelum meninggalkan kami semua, ibu berwasiat kepadaku, agar sepeninggalnya kelak, dia buka sebuahnsurat yang ditaruh di sebuah peti hitam kecil, dan berpesan  " ibu tidak meninggalkan harta sebagai warisan, karena tuhan telah memberikanmu lebih dari yang kau bayangkan dulu, ibu hanya ingin kamu tetap seperti dulu ".

Beberapa hari sepeninggal ibu, aku membuka peti hitam itu, dan dengan perlahan kubuka surat yang sudah usang itu.

" anak ibu sangat bodoh, dan susah memahami pelajaran, kami tidak bisa mendidik dia, biarlah dia tinggal dirumah dan hidup dengan kebodohannya "

Aku menangis membaca kalimat demi kalimat dari surat itu, kini aku tahu sebenarnya, apa isi surat itu.

Terima kasih ibu,

Surat dari sang milyader untuk semua yang merasa tidak pintar,

Bakat, dan keahlian bukanlah bawaan lahir tapi tempaan kegigihan dan cinta kasih.

Semoga bermanfaat


Komentar