Pencari rumput

Di sebuah desa kecil dipinggiran sungai, ada seorang lelaki separo usia, dari guratan urat di lengannya yang kekar dia adalah seorang pekerja keras, dari kulitnya mengkilat kehitaman bercerita bahwa dia adalah pekerja yang tangguh, dia adalah seorang pencari rumput, dia mencari rumput di padang ilalang yang menghampar luas di kampungnya, dia mencari rumput dari pagi hingga petang kemudian dia langsung jual ke tukang ternak di kampung sebelah.

Suatu hari saat perjalanan dia menuju padang ilalang pagi pagi buta dia terus berfikir dan merenung kenapa akhir akhir ini hasil dia merumput semakin menurun sehingga pendapatan yang ia miliki akhir akhir ini semakin sedikit, mungkin waktu dia merumput kurang lama jadi perlu ditambah pikirnya, akhirnya mulai esok dia berangkat lebih pagi dan pulang hingga larut malam, belum lagi ditambah dia harus menyetorkan rumputnya ke peternak, maka semakin malamlah dia tiba dirumahnya.

Hari hari pertama saat dia memutuskan untuk memperpanjang waktu dia merumput dia menghasilkan banyak rumput, tapi lama kelamaan hasilnya kembali seperti semula bahkan suatu hari dia memperpanjang lebih lama waktu dia merumput tapi hasilnya justru menurun jauh lebih sedikit dari awal awal dia merumput, kadang rumputnya malah banyak yang rusak karena datang terlalu malam hingga peternak pun sudah banyak yang beli dari tukang rumput lainnya, sehingga dagangan rumputnya akan rusak dan sirnalah jerih payahnya tanpa ada hasil dari cucuran keringatnya sedari pagi.

Hingga tiba suatu hari karena kelelahan, dia  jatuh sakit  dan terbaring dipembaringan hingga beberapa hari, semua itu membuat dia tidak berpenghasilan, dia sangat tertekan dan sedih hingga terpuruk rasanya, dalam sakitnya dia tetap berfikir keras untuk terus merumput dan menghasilkan rumput sebanyak banyaknya, hingga suatu hari walau kondisinya lemah dia memaksakan diri untuk merumput mencari penghasilan.

Karena badan lemah dia berangkat lebih siang dari biasanya dia merumput sebelum belumnya, di padang ilalang tempat dia merumput dia berjumpa dengan tukang rumput lainnya, sebenarnya mereka sering merumput bersama tapi mereka jarang bertegur sapa baru kali ini dia memperhatikan perumput itu, saat senja tiba sang perumput yang satunya sudah selesai dan berniat pulang , dia lihat hasilnya begitu banyak bahkan melebihi hasilnya saat dia merumput dengan berangkat pagi buta dan pulang larut malam padahal hari itu masih sore, dia berfikir dan merenung, kok beda ya hasilnya, sabit yang di pakai sama, lahannya sama , usiannya sama, bahkan waktunya lebih singkat, akhirnya dia memutuskan untuk bertanya apa rahasia temannya itu.

Keesokan harinya dia bertemu kembali dengan temannya merumput, mereka berangkat bersama, akhirnya dia bertanya kepada temannya itu, wahai saudaraku apa rahasiamu sehingga kamu bisa merumput lebih banyak , padahal sabit kita sama, dan waktu yang kau lebih pendek dariku ??

Begini saudaraku rahasiaku hanya aku sering mengasah sabitku hingga tajam, jadi aku lebih cepat merumputnya karena sabitku lebih tajam, jadi waktu yang aku gunakan lebih sedikit, aku mungkin memerlukan waktu untuk mengasah saat kamu sudah berangkat pagi pagi buta, tapi hasilnya lebih banyak karena lebih tajam dan lebih cepat memotong rumput. Terang temannya membuat dia akhirnya memahami bahwa tak selamanya kerja keras dia berbuah lebih baik, ada hal lain yang perlu diperhatikan.

Sahabat sahabatku sekalian kita juga harus senantiasa mengasah sabit kita untuk mendapatkan hasil yang maksimal, terus menambah keahlian dibidang kita , terus mengasah kemampuan, kepekaan, dan intuisi untuk kesuksesan kita, belajar lebih banyak, berinovasi dan yang terpenting mengasah iman dan keyakinan kita kepada kebesaran sang khalik Tuhan penguasa setiap usaha dan gerak kita.

Semoga bermanfaat

Awie

Komentar