Kisahku dan Pak Mashudi
Kisah ini aku alami saat aku masih duduk di bangku Madrasah Ibtida'iyah, yaitu sebuah tingkatan sekolah yang setara dengan sekolah dasar, ada hal menarik kala itu kalau tidak salah di usia pendidikanku pada tingkat empat atau bisa dibilang kelas empat.
Ada seorang guru yang sabar saat itu dengan metode mendidik seperti Bapak kita , beliau bernama Pak mashudi, iya seorang guru yang mengampu mata pelajarah Fiqih sebuah cabang ilmu yang mengajarkan tentang syariah, selain itu beliau juga bertanggung jawab sebagai wali kelas, wajar jika beliau memposisikan diri sebagai seorang Bapak bagi kami anak didiknya.
Kami menempatkan diri sebagai anak didik dan beliau sebagai orang tua kami, tidak selayaknya sekarang hanya disebut sebagai peserta didik, yang menurut pemahamanku, proses menimba ilmu hanya sebatas seremonial transfer isi buku diktat dari seorang pengajar kepada peserta didik, selesai jam pelajaran selesai sudah hubungan itu, tapi kala itu proses belajar kami adalah transfer ilmu, Bapak Mashudi tidak hanya seorang guru tapi beliau juga bapak bagi kami yang tidak hanya mentransferkan materi pelajaran tapi juga akhlaq serta kaidah kaidah hidup sehari hari, bukan karena bidangnya fiqih tapi karena memang ada beban moral pada pendidikan tidak sebatas formalitas kurikulum tapi juga karakter.
Kembali kekisah yang ingin aku ceritakan, saat itu kami semua hendak menghadapi ujian catur wulan ( cawu ) dulu tidak pagi sistem semester seperti sekarang, kami semua dihimbau untuk belajar yang giat guna mempersiapkan ujian tersebut. Namanya juga anak anak, sepulang sekolah pasti juga sibuk dengan bermain ke sawah, bermain layangan, bermain ke sungai maklun waktu itu belum ada game online atau tablet ada juga gamebot itupun anak anak orang kaya yang bisa beli.
Pak Mashudi berpesan kepada kita, agar setelah maghrib atau pulang ngaji kita tidak menonton Televisi dan harus belajar, beliau akan datang kerumah kami masing masing, jika kedapatan kita tidak belajar maka akan dilaporkan ke orang tua atau guru ngaji saat itu untuk diberi hukuman, kala itu kami sangat takut jika kebandelan kami melibatkan orang tua apalagi harus membuat malu kedua orabg tua karena kenakalan atau kemalasan kami, karena setiap akhir ujian orang tualah yang menerima Raport.
Aku juga sangat khawatir kala itu, setiap hari aku senantiasa belajar, mengerjakan tugas tepat waktu, tidak nonton televisi sama sekali sambil berjaga jaga siapa tau pak Mashudi datang silaturahim kerumah, semua itu terus berjalan hingga mendekati ujian catur wulan tiba , dan ternyata pak Mashudi sama sekali tidak kerumah, tapi dengan sendirinya aku jadi rajin belajar tidak hanya aku yang mengalami tapi semua teman sekelas juga sama, alhasil nilai kita ujian meningkat pesat, dan setelah itu tanpa disuruh kami semua juga belajar dengan sendiri.
Sukses dengan metode tersebut beliau berpesan kepada kami agar setelah pulang sekolah langsung membaca atau belajar ulang pelajaran disekolah tadi dan setelah sholat subuh membaca lagi, berawal dari itu semua kami jadi rajin belajar, rajin membaca dan aktifitas tersebut terus berlanjut hingga sekarang bahkan, sebuah hal yang ditanamkan secara perlahan menjadi hal positif yang menjadi seperti kebiasaan yang tentunya berefek sangat positif bagi mental kami hingga saat ini.
Sahabat sahabat sekalian sesuatu yang dilakukan penuh dengan tanggung jawab moril untuk membentuk sebuah karakter positif tidak hanya mengedepankan selesainya tugas tapi lebih dari itu pasti akan berdampak besar bagi orang lain, mengarahkan ke hal positif pada orang lain entah itu anak didik, karyawan, anggota atau apalah yang menjadi tanggung jawab kita haruslah dengan memperhatikan kondisi dan karakter mereka, faktor apa yang sangat berpengaruh dan memicu peningkatan kualitas dan energi positif. Tidak harus kaku dengan aturan yang ada, kebiasaan, sehingga menciptakan mental blok bagi kita, tapi harus berani berfikir beda, dan inovatif serta yang terpenting mampu memposisikan diri kita sebagai target.
Sebuah kisah yang menarik semoga ada makna positif yang bisa digali dan mampu menginspirasi setiap langkah memenuhi takdir Tuhan penguasa alam.
Semoga inspiratif
Awie..
Komentar
Posting Komentar