Guru dari alam raya

Wajahnya yang teduh membiaskan banyaknya hal yang mungkin telah dia baca, sorot matanya yang tajam memaksaku menunduk malu menyiratkan percaya diri yang besar akan setiap langkahnya, suaranya yang lembut, jelas dan irama kewibawaan yang menggambarkan tajamnya analisanya, sehingga apa yang keluar dari lisannya adalah hasil filterisasi pemikiran yang dalam, di sela obrolan yang penuh makna ada seberapa bait pesan yang terus terngiang dalam fikiran dan kalbu

" jika melihat betapa banyak agama, aliran, sekte dan kepercayaan di dunia fana ini yang pasti semua pemeluknya merasa paling benar , saya jadi berfikir apakah di akherat kelak SURGA juga ada banyak sebanyak agama, sekte, aliran dan kepercayaan itu ?? Andai ada satu saja tapi kira kira surganya siapa ?? agama / aliran  ??  "

" Jika surga itu tak pernah ada bahkan tak pernah dijanjikan, kiranya masihkah meluruskan niat dan gerak kita untuk beribadah ?? "

" Mestinya kita harus jujur dalam diri kita, masih banyak diantara kita beragama karena warisan, mungkinkah kita islam jika orang tua kita bukan islam, mungkinkah kita hindu. Kristen, budha jika orang tua kita tidak memeluknya ??  "

Beragam pesan dalam  pertanyaan yang terus memaksa saya untuk terus belajar dan belajar, menjadi diri kita bermanfaat bagi alam sebanyak banyaknya semaksimal kemampuan kita adalah hal yang sangat bijak
Sebuah pesan dari guru alam, tanpa titel, tanpa pangkat, tanpa kedudukan, tanpa kelas, Hadir dalam kuliah terbuka pada universitas alam raya, universitas kehidupan.

Saat ku duduk di tepi pantai, tidak ramai, karena bukan tempat wisata, sambil minum air  putih bukan sambil ngopi karena saya bukan insan pergerakan, yang pasti sambil berkaca kaca dan termenung...

Banggai, 24 maret 2016

Awie

Komentar