PAK BASIR ; Perampok gerombolan Kadarusman
Tegalsari, sebuah kampung kecil masuk di kecamatan Gambiran Banyuwangi
daerah selatan, dikampung ini banyak sarat dan kental dengan kehidupan berbasis
pesantren, di Tegalsari banyak berdiri pusat pusat pendidikan islam baik dalam
bentuk pesantren maupun yayasan pendidikan sosial islam berbasis pendidikan
modern, selain kentalnya kehidupan masyarakat yang islami Tegalsari juga
menyiratkan mayoritas warga nahdliyin sebutan atau julukan bagi warga yang ikut
dalam wadah jamiyah islam nahdlatul ulama salah satu ormas terbesar islam di
negeri ini yang didirikan Hadratus syech Hasyim as'arie di Jombang Jawa timur.
Beberapa tahun silam Tegalsari dikenal akan barisan pemuda milik jamiyah
nahdlatul ulama yang bersama sama masyarakat menumpas pemberontakan G 30 S PKI
mereka adalah pemuda yang tergabung dalam gerakan pemuda ansor selain itu
banyak juga muda mudinya yang yang ikut dalam seni bela diri untuk membekali
hidup mereka, banyak padepokan seni beladiri di Tegalsari tapi Pagar nusa salah
satu badan otonom Nahdlatul ulama yang banyak merekrut anggota, selain ilmu kan
uragan mereka juga dibekali ilmu agama, karomah dan nasionalisme untuk membela
tanah air.
Dipinggiran kampung tinggalah pak Basir beliau sang master pencak silat
didaerah ini, banyak murid yang menimba ilmu padanya selain ilmu kanuragan
banyak juga para muda dan mudi yang mendalami ilmu agama serta lelaku spiritual
bersama pak Basir, didaerah dia tinggal dia sering disebut pendekar besar
bahkan di pagar nusa beliau adalah salah satu pendekar besar yang menurunkan
ilmu ilmu beladiri pada para anggotanya dan ilmu ilmu kesaktian sebagai
penyempurna beladiri para anggota pagar nusa` pak basir waktu masih muda
menempa ilmu beladiri dengan menjelajahi daerah daerah dijawa dia sudah banyak
berguru pada pendekar pendekar pencak silat dari berbagai perguruan, singa
putih, persaudarran setia hati, cimande, dan masih banyak lagi, berbagai aliran
beladiri pencak silat pak basir kuasai tapi semua ia olah dalam sebuah seni dan
aliran beladiri khasnya dia menamai aliran pencak silat nafas alam, aliran
beladiri pencak silat nafas alam dia ajarkan pada murid muridnya dengan
dibarengi intervensi ilmu islam dan lelaku spiritual pendekatan diri pada sang
pencipta, inti ajaran beliau adalah kepasrahan, lemah lembut dan kesucian.
Setiap murid yang ia tempa harus menuntaskan dulu dasar dasar beragama dan
bermasyarakat yang baik bernafaskan sendi sendi islam dan setelah mereka
menyempurnakan jurus jurus bela diri nafas alam mereka akan digembleng dengan
lelaku spiritual yang menitik beratkan pada kekosongan, keheningan, hanya
sebuah keyakinan bahwa setiap sendi kehidupan ini digerakkan oleh sang
pencipta, maka para murid termasuk pak basir terlihat dengan perangainya yang
lemah lembut , sopan, halus dalam bertutur sapa, bersahaja dan bahkan jika
orang baru melihat beliau pasti tidak ada yang menyangka jika beliau adalah
pendekar besar pencak silat selain itu memang postur tubuh beliau yang kecil dan
terkesan lemah itulah yag membuat kamuflase pak basir semakin besar untuk
menutupi kemampuannya, tapi dikalangan kampung tempat dia tinggal pak basir
terkenal masyhur dengan perguruan nafas alamnya`
Tegalsari melahirkan pendekar pendekar pencak sialt yang tergabung dalam
pagar nusa banyak sekali, puluhan yang masih bertahan tinggal disini untuk
terus menelurkan ksatria ksatria dunia persilatan, tak sedikit dari siswa siswa
mereka yang sukses di setiap kejuaraan pencat silat baik daerah maupun nasional.
Tapi dari kesekian perguruan didaerah ini semua menobatkan pak basir sebagai
pendekar besar dan memimpin persatuan pencak silat serta perkumpulan pencak
silat pagar nusa didaerah ini, semua orang segan kepada pak basir, beliau
diagung agungkan serta tersohor hingga luar daerah, bahkan jika ada kejuaran
kejuaran pencak silat pak basir selalu diundang untuk menjadi juri atau sekedar
tamu sebagai pendekar besar yang masyhur beliau tentu banyak relasi para
pejabat dan pembesar di kota Banyuwangi. Tapi ada hal yang ironis dengan
kebesaran beliau, kesahajaan dan kesederhanaa selalu melekat pada diri pak
basir dan keluarga serta kehidupan perguruan bela dirinya. Tak sedikit dari para
pejabat bahkan para alumninya yang berniat membantu untuk membangunkan rumah
dan membantu kehidupan agar lebih baik, tapi semua itu pak basir tolak, dia
selalu bilang “ milik kami sekarang ini adalah kekayaan yang tak ternilai,
cinta dari orang terdekat dan kasih sayang yang senatiasa tertanam adalah nafas
dari hidup kami “ kalimat kalimat yang selalu disampaikan beliau kepada
siapapun.
Suatu hari saat diadakan pertemua rutin membahas persiapan pergantian
pengurus pagar nusa yang kebetulan bertempat dimushola pak basir, disitu banyak
hadir pengurus harian dan para pendekar pagar nusa hadir pula sesepuh pagar
nusa dan pendekar besar yang tentunya pak basir sendiri, dalam malam
silaturahim itu disepakati untuk diadakan regenerasi dan pemilihan pemimpin dan
reeformasi kepengurusan dalam tubuh pagar nusa di Tegalsari. Setelah rapat usai
dan diakhiri dengan makan bersama serta diskusi bebas, ada salah satu murid
dari perguruan gagak putih menyampaikan berita perihal adanya seseorang yang
mengaku murid aliran setia hati murni, dia adalah salah satu petani pendatang
di Tegalsari, selain bertani dia juga mendirikan padepokan persilatan kecil
dipinggir sungai setail, dia memiliki murid dan sekaligus anak yang masih
berusia belasan tahun, dari pengamatan yang telah dilakukan, petani tersebut
memiliki ilmu kanuragan yang sangat tinggi pernah suatu hari murid gagak putih
melihat petani tersebut dikeroyok para pencuri padi disawah , petani tersebut
dikeroyok 10 orang dengan bersenjata celurit, tapi sepuluh orang tersebut
berhasil dia pecundangi dan lari tunggang lalang.
Disebuah gubuk kecil pinggiran suangai setail, yaitu sungai yang
memisahkan kampung `Tegalsari dengan kampung giripuro atau biasa terkenal dengan
kampung krasak. Disitu tinggal seorang petani pendatang dari daerah madiun
jawa timur bagian barat, petani tersebut hanya ditemani seorang anak yang
usianya belasan tahun, petani miskin tersebut bekerja serabutan pada orang yang
memiliki sawah, dia bekerja sesuai permintaan, sembari dia mengurus kebun sayur
dan palawija disekeliling gubuknya dipinggiran sungai. Sungai setail adalah
sungai jernih yang lumayan luas , dipinggiran sungai terdapat pasir dan tanah
kasar sehingga sangat cocok ditanami sayur, kacang tanah dan lainnya sehingga
hal itu ia manfaatkan untuk menambah penghasilan. Di samping gubuknya ada
pekarangan agak luas tempat dia berlatih kanuragan bersama anaknya yang biasa
dia panggil murid, pekarangan tempat berlatih tersebut dilengkapi dengan sasak
pasir yang digantung tempat mereka latihan tinju dan tendangan. Petani itu
hidup asing dari keramaian penduduk tegalsari, dia juga terkesan pendiam dan
kurang ramah jarang menyapa bahkan tersenyum juga tidak jika berpapasan dengan
para penduduk setempat, dia hanya menerima pekerjaan dari orang – orang yang
membutuhkannya dan kebetulan bertemu disawah.
Sudah beberapa hari ini kampung tegalsari dihebohkan oleh para pencuri
gabah (padi), tegalsari memiliki berhektar hektar sawah sebagai tumpuan hidup
masyarakatnya, menjelang panen para masyarakat di sibukkan dengan ulah para
segerombolan perampok dan pencuri gabah, gabah atau padi yang menguning disawah
dan siapa untuk dipanen sebelum sang pemilik menikmatinya telah dipanen oleh
para perampok. Suatu malam perampok yang dipimpin kadarusman berhasil memanen
padi punya juragan hasan, hampir satu hektar ludes meninggalkan gagang gagang
padi disawah, butir butir padi hilang raib dimakan malam, tentu itu semua bukan
ulah kutu busuk maupun wereng musuh abadi para petani, tapi ini semua adalah
ulah hama bertopeng beramput hitam. Sudah santer dimasyarakat kadarusman adalah
kepala gerombolan perampok, mereka adalah perampok bengis yang tak segan segan
menghabiskan padi warga disawah, mereka beraksi dengan membawa truk – truk,
berjumlah lebih dari 20 orang, mereka menggasak sawah sawah yang menjadi
targetnya. Setiap operasinya kadarusman dan kawan kawannya selalu dilakukan
pada malam hari, saat dimana masyarakat sedang tidur pulas, dalam aksinya tak
jarang mereka berbuat brutal, bila ada petani yang kebetulan lewat atau sedang
dapat tugas ronda sawah pasti mereka habisi. Kekejaman dan kebrutalan
kadarusman dan kawan kawan suudah sering jadi buah bibir warga namun ketika
dilaporkan kepada pihak berwajib, serasa bagai angin lalu ditelinga aparat
tersebut, mereka tak bisa berbuat banyak.
Malam itu malam jumat, pak basir dan dua orang muridnya pulang dari pengajian
di dusun tugurejo kampung tegalsari, tugurejo adalah salah satu dusun di
tegalsari yang berada di barat sungai panduman didusun inilah banyak masyarakat
tegalsari memiliki sawah sawah, hampir separoh wilayah dusun ini adalah
persawahan, disisi barat tugurejo terdapat hutan milik perhutani dan perkebunan
yang dikelola swadaya oleh masyarakat. Sekitar pukul 21.00 pak basir naik
sepeda kayuh gaselle miliknya di dampingi oleh dua orang muridnya pardi dan
gito, seperti biasa jalan satu satunya yang harus mereka lewati adalah
persawahan, mereka berjalan beriringan paling depan pardi , pak basir dan gito
paling belakang. Ditengah persawahan mereka dikagetkan dengan sekelompok orang
orang berpakaian hitam yang berdiri menghadang jalan mereka, berjumalah 6 orang
berpakaian serba hitam dan bertopeng membawa golok dan ada dua orang yang
membawa celurit, senjata mereka berkilau kilau putih terkena pantulan cahaya
rembulan yang tertutup awan.
“ hai, kalian bertiga kenapa malam malam masih berkeliaran disawah ? “
bentak pimpinan gerombolan manusia hitam, dari postur tubuhnya dia yang paling
besar badannya.
“ kami hanya melintas , pulang dari pengajian di tugurejo “ jawab pak basir
dengan lembut, sambil memberi kode pada dua orang muridnya untuk mempersiapkan
diri jika para manusia hitam tersebut menyerang.
“ karena kalian telah melintas dan telah bertemu
dengan kami, tak mungkin kami akan melepas kalian, kalian harus kami bunuh “
ancam salah satu dari enam berandal tersebut`
Tak selang lama dari ancaman tersebut sabetan
celurit dan golok mereka tebaskan kearah pak basir dan kedua muridnya, pak basir
dan pardi dengan gesit menghindari setiap sabetannya dengan sesekali
mengarahkan pukulan tangan kosong ke para berandal tersebut, satu orang melawan
dua berandal sekaligus. Pertempuran tidak imbangpun tak bisa terelakkan saling serang, saling pukulpun terjadi, para
perampok dengan senjata mereka terus menyerang dengan membabi buta, sabetan
sabetan golok dan celurit menari nari diudara mencari sasaran, tapi pak basir
dan kedua muridnya bukanlah lawan yang bisa diremehkan, walau terkesan hanya
menghindar dan mempertahankan diri tapi dengan pukulan pukulan yang hanya
sesekali mereka sasarkan tepat pada bagian bagian tubuh lawan yang vital
sehingga mau tidak mau ke enam berandalan tersebut kewalahan juga menghadapi
pak basir dan kedua muridnya, pak basir yang sudah mulai geram dia mengeluarkan
jurus jurus andalannya, dia kerahkan semua tenaga dalamnya dan dia pusatkan
pada gerakan tangan dan kakinya, sehingga setiap pukulan dan tendangan pak
basir yang menyentuh lawan, membuat tulang tulang rawan retak sehingga lawan
langsung jatuh tersungkur, pertempuran sengit berlangsung lebih dari lima belas
menit dan keenam berandal tersebut jatuh tersungkur muntah darah. Tapi tak
berselang lama datang gerombolan berandal berpakaian sama hitam seperti ke enam
berandal tersebut jumlahnya puluhan, mereka adalah teman keenam berandal
tersebut, kelompok berandal pimpinan kadarusman.ternyata selama terjadi
perkelahian tadi mereka sengaja bersembunyi menunggu situasi. Mereka semakin
mendekat dengan mengayun ayunkan senjata mereka menggertak pak basirr dan kedua
muridnya. Segerombolan tersebut berniat untuk menghabisi pak basir beserta
kedua muridnya, sudah jadi kebiasaan mereka siapa saja yang lewat saat
gerombolan perampok itu beraksi maka sudah pasti akan dihabisi, tapi kali ini
bukanlah manusia biasa yang mereka hadapi pak basir adalah pendekar terkenal di
Tegalsari, banyak orang mahfum akan hal itu dan kadarusman selaku pimpinan
gerombolan tersebut sudah pasti mengetahui berita tersebut, tapi dari segi
jumlah secara hitung hitungan para gerombolan perampok bukanlah lawan yang
sedikit, tentunya hal ini akan di manfaatkan oleh kadarusman dan gerombolannya,
menguras tenaga lawan dan setelah kewalahan akan dihabisi itulah strategi yang
akan kadarusman terapkan, melawan pendekar tangguh seperti pak basir harus
menggunakan akal dan tipu muslihat.
Perkelahian tak berimbang pun tak bisa terelakkan,
pak basir dan kedua muridnya sudah tak bisa lari , menghadapi gerombolan
perampok adalah jalan satu satunya, walau harus mati berkalang tanah tapi
minimal perjuangannya akan menghasilkan hikmah, malam semakin larut pertempuran
terus berlanjut, sabetan parang, celurit silih berganti menyerang pak basir
dengan kedua muridnya hanya dengan sarung mereka bertiga terus melawan,
kadarusman terus mengawasi pertempuran tersebut, pak basir dan kedua muridnya
semakin terpojok, akhirnya mereka menggunakan strategi untuk terus bersama
mempertemukan punggung menghadap berlawanan arah, dengan posisi bertahan mereka
terus menangkis setiap serangan demi serangan lawan, tapi usaha mereka tak
bertahan lama, para anak buah kadarusman lebih lihai memancing pak basir dan
kedua muridnya untuk berpencar, ketika umpan mereka berhasil para gerombolan
menyerang salah satu murid pak basir dengan meninggalkan satu lawan bagi pak
basir dan salah satu murid lainnya. Dengan tak tik tersebut salah satu murid
pak basir Pardi tumbang dan berhasil dibinasakan oleh para perampok, dia gugur oleh
sabetan celurit mengenai perutnya membuat semua isi perut terburai hingga
akhirnya menemui ajal. Melihat muridnya terkapar ditanah pak basir marah besar
, dia mengamuk sejadi jadinya dia keluarkan jurus jurus yang sangat cepat dan
dengan jurusnya itu banyak perampok tumbang dan terkapar, disaat pak basir
berhasil menghabisi perampok satu demi satu, murid pak basir yang satunya Gito di
tikam parang oleh kadarusman hingga azal menjemput.
Perkelahian terus berlanjut, tak disadari oleh pak
basir dan kadarusman ada sepasang mata menyaksikan perkelahian tersebut, sambil
bersembunyi di rerimbunan padi mata itu terus menyaksikan terjadinya
perkelahian, dialah pak usman sang pemilik sawah yang kebetulan sedang menunggu
sawahnya, bernasib baik dia bisa sembunyi sambil terus menyaksikan perkelahian
pak basir dan para perampok pimpinan kadarusman. Tak selang beberapa lama dari
kejauhan tampak sorot lampu mobil mengarah ke arena perkelahian tersebut,
semakin mendekat ke arena tampaklah mobil polisi mendekat, kehadiran para
polisi tersebut tak disadari oleh kadarusman dan kroco kroconya, dengan melepas
tembakan para polisi hendak melerai perkelahian tidak imbang tersebut. Melihat
banyak polisi kadarusman hendak melarikan diri tapi sudah tidak ada celah lagi
untuk kabur karena polisi sudah mengepung area perkelahian tersebut, dan karena
tidak berkutik kadarusman mengangkat tangan pertanda penyerahan diri.
“angkat tangan semua “ teriak komandan polisi
melerai perkelahian
“Cepat borgol para perampok yang masih hidup, dan
urus yang sudah mati “ perintah komandan polisi kepada anak buahnya.
“ Pak basir tidak apa apa pak ?” tanya komandan
pak polisi yang melihat pak basir tersungkur lemas, banyak bercak darah di baju
yang iya kenakan.
“ saya tidak apa apa pak polisi, saya kehabisan
tenaga, untung pak polisi segera datang kalau tidak mungkin saya sudah menyusul
kedua murid saya “ terang pak basir dengan suara lemah.
“Pak basir, pak Basir ini usman “ tiba tiba usman
keluar dari persembunyiannya dan menghampiri pak basir, dia keluar bersama anak
kecil, entah kapann anak tersebut bersama pak usman.
“ oh pak usman, bapak kah yang memanggil para
polisi? “ jawab pak basir dengan nada terputus putus.
“iya pak, saya dari tadi mengintip perkelahian
bapak, dan menyuruh anak saya untuk lari memanggil pak polisi, “ terang pak
usman sambil membersihkan bercak darah disekitar wajah pak basir.
“ ter ter erima kasih pak usman “ pak basir berkata
sambil bergetar lalu pingsan.
Kadarusman dan para perampok yang masih hidup
digelandang ke kantor polisi, pak basir, Pardi dan gito kedua muridnya dan para korban lainnya segera
dilarikan kerumah sakit. Masyarakat banyak yang datang untuk melihat dan
membantu, semua mengelu elukan pak basir dan turut bersyukur akhirnya perampok
yang selama ini meresahkan warga bisa tertangkap, nama pak basir menjadi
terkenal kepenjuru kampung karena berhasil menagkap dan melawan para perampok. Setelah kejadian itu kampung tegalsari menjadi tentram para petani tidak takut lagi kesawah dan mereka bisa memanen padinya sendiri tanpa takut dirampok, nama pak basir jadi buah bibir masyarakat dan menjadi perbincangan seantero tegalsari. Berita pak basir melawan para perampok di sawah terdengar sampai ditelinga petani miskin yang tinggal dipinggiran suangai setail.
Komentar
Posting Komentar