RESOLUSI MIMPI "Kini Aku Berani Bermimpi“
Hari ini tatkala sendiri kadang
rasa yang selama ini bergemuruh dada ingin termuntahkan, begah rasa otak
ini berisi penuh dengan pemikiran dan harapan - harapan yang kadang melumpuhkan
keberanian tapi semua itu terus membara dan mendidih merangsang keyakinan bahwa
aku lahir dan besar hingga saat ini bukan untuk jadi orang biasa saja, pasti
akan ada andil besar yang akan di amanahkan padaku. Saat inipun aku telah
berani menyampaikan gelora dada itu pada keluarga dengan terus menyakinkan
mereka aku akan jadi orang yang bermanfat semua itu aku dasarkan pada apa yang
telah aku alami hingga usiaku sampai detik ini, mungkin bukan usia matang untuk
menjadi penggagas dan tidaklah masih remaja untuk terus menyuarakan pergerakan
dan membangkitkan himpunan.
Saat aku lahir aku sadar aku
bukan jatuh pada gelimang permata, dengan terus mengingat kejadian saat aku
lahir yang begitu susah untuk diingat yang akhirnya aku tetap menyandarkan
peristiwa itu dengan apa yang disampaikan kedua orang tuaku, bahwa aku terlahir saat
rumah kosong akan kemewahan yang ada hanya tumpukan nestapa , tapi disela tangis saat
itu ada senyum harapan kedua orang tuaku bahwa kelak, entah saat ini atau
beberapa tahun diusiaku mendatang aku pasti bisa membuat senyum tersimpul dilesung pipi mereka, harapan itu terus di bisikkan sambil terus membesarkanku
dengan cinta dan kasih sayang, ketidak berdayaan ekonomi saat itu bukanlah
halangan mereka untuk terus berupaya membesarkanku semampu mereka dengan sekuat
tenaga dan segala daya usaha.
Aku dibesarkan bukan dengan
gelimang kemewahan dan gemerlab mutiara, saat itu mimpipun aku tidak pernah
berani, mungkin saat ini setiap manusia dituntut harus berani bermimpi karena
mimpi adalah awal setiap perjuangan hidup terus berproses untuk menorehkan
sebuah sejarah besar. Wajar bagi aku yang memang saat itu tiada seorangpun yang
mencotohkan akan keberanian bermimpi, tak ada seorangpun yang bisa aku lihat
biografi kesuksesannya dengan paradigma sukses awam kebayakan, bagiku saat itu hayalah mengikuti suapan demi
suapan makna kehidupan yang kedua orang tuaku berikan, tak banyak yang harus
aku tiru , kemewahan disekelilingku adalah biasan sebuah kecongkakan ,
kesombongan, disisi laen kami harus tetap berjuang memenuhi kebutuhan sehari
hari tanpa mimpi besar, tapi dua orang yang senantiasa disampingku terus
merasuki setiap sendi pemikiranku akan cita - cita mereka yang suatu saat akan
melihat aku bisa jadi orang yang bermanfaat dan lebih mulia, mimpi dan asa
kedua insan itu terus tertanam di hatiku walau terkadang pemberontakan
lingkungan terhadap semua itu kian kuat “sudahlah, jangan pernah bermimpi
orang susah tinggal jalani hidup apa adanya" kalimat yang senantiasa menjadi
aral dari setiap mimpi mereka.
Mungkin hanya tangis yang terus
keluar dari pelupuk mata dan wibawa kedua orang tuaku, dalam tiap tetesan air
matanya mengandung ribuan do’a yang terpanjat sebagai wujud kepercayaan pada Tuhan yang mereka yakini, “ biarlah semua merendahkanmu anakku, teruslah
merangkak dan ketika suatu masa kamu telah diatas jangan kau ulangi kesalahan mereka
dengan merendahkan orang lain, menang tidak harus mengalahkan, unggul tidak
harus merendahkan “ kalimat salju yang kian dingin membekukan panas gemuruh
egois dan sakit hati, disisi lain sebagai bahan bakar penggerak semangat
pengharapan. Mereka terus berjuang melawan lingkungan yang kian mencemooh, tapi
tidaklah seburuk dan sejahat itu masih banyak juga yang senantiasa mendukung
karena memang kita senasib dalam satu wadah persaudaraan, “Tenang mas, jangan
dengarkan orang lain terus kembangkan potensimu, kami memang tidak bisa membantu jalan menuju kesana tapi kami yakin jalan
menuju kesana itu bisa kau temukan
dengan sendirinya, jangan menjadi instan karena yang instan tidaklah bermanfaat
banyak“ kalimat lingkungan yang terus mendukung , suatu saat mungkin aku tak
pernah membalasnya, tapi akan ada yang lebih mulya membalas semua itu, ketika
itu harus lewat tangan dingin ini akan akan terus mensyukurinya.
Perjuangan mengalahkan diri
sendiri akan ketakutan bermimpi bukanlah perjuangan mudah, minder dan rasa
rendah hati terus membayangi setiap tapak langkah kaki mungil ini, aku sadari
sekian tahun ketika aku pernah meraih prestasi bukanlah murni perjuanganku,
atau bahkan tidak ada sama sekali, karena bermimpipun aku takut, aku lebih
banyak disibukkan dengan keminderan dan rasa rendah diri, jika prestasi itu
harus ada penghargaan selain memang penguasa alam semestalah yang seratus
persen punya andil kedua orang tuakulah yang patut dikalungi karangan bunga
kebesaran dan prestasi, doanya siang dan malam adalah pelita dan penunjuk arah
tatkala kegelapan yang di gambarkan dengan ketakutan bermimpi dan rasa minder terus menutupi jalan ku menuju kesana`
Semakin dewasa badan ini
berjalan, semakin dewasa pula keberanianku, kala pikiran tiada pernah berani
mendefinisikan lingkungan jiwaku terus mengembara, prestasi tiada pernah aku
kejar karena aku menjalani semua apa adanya, jika sang waktu mengharuskan aku
belajar maka membuka buku dan mengulang kembali petuah para pemberi ilmu adalah
langkah otomatis yang aku lakukan, semua sedikit demi sedikit merubah
keberanianku, tapi satu hal yang masih membelenggu yaitu ketakutan untuk
bergaul dengan lingkungan, jika para orang - orang berbusana mewah selektif
berkawan demi kemewahan akupun juga secongkak mereka aku selektif berlingkungan
demi terus menutupi ketakutanku akan ejekan dan cemoohan, bagiku dunia mereka
adalah hantu yang selalu bergentayangan.
Suatu hari aku sadar lingkungan
akan ramah dan mendukung kita jika kita menciptakan lingkungan itu seramah dan
sebaik yang ada di bayangan kita, hingga aku belajar mengafirmasikan bahwa
lingkunganku akan terus mendukungku, mereka adalah bagian yang tak terpisahkan
dari perjuanganku, semua itu terus berjalan secara alami hingga aku semakin
berani bermimpi dan menggantungkan asa dan bertekad merengkuh cita - cita dan
menorehkan tinta sejarah buat mereka, “kamu jangan berfikir tentang pecundang
tapi terus berfikirlah kamu pemenang“ kalimat penutup perjumpaan saya dengan
sang malaikat pembawa semangat di sore hari sepulang dari pusat perbelanjaan
mewah di bilangan ibukota negeri ini. “kini aku berani bermimpi“ satu kalimat
singkat untuk kedua orang tuaku dan lingkunganku nan jauh disana , jauh karena
ada jalan raya anda hutan belantara tapa jalan mereka akan senantiasa dekat .
Komentar
Posting Komentar