PERJALANAN KE INDRAMAYU



“Solo - Solo, Cirebon, Purwokerto, yang Jawa ,yang Iawa “ suara para kenek dan kondektur sangat riuh sekali memadati kebisingan sore yang masih sangat panas di terminal Pulogadung Jakarta, kami berempat berjalan menembus kerumunan para penumpang lain untuk mencari bus yang akan kami tumpangi ke Indra mayu. Aku hari ini hendak pergi ke sebuah kota di Jawa barat yang masih masuk wilayah pantura yaitu kota dermayu tempat wiralodra dulu pernah berkuasa, iya kota Indra mayu adalah tujuan saya untuk sedikit mengusir kegalauan hati, tinggal disana seorang sahabat baru aku, belum karib emang tapi kesamaan permasalahan lah yang membuat aku dan dia begitu dekat, pagi tadi saat aku bimbang dan penuh kenestapaan tinggal dalam kontrakan panas di bekasi belakang terminal cibitung sahabat yang biasa ku panggil Abdul iya kependekan dari nama abdullah  menghiburku dengan mengajak untuk jalan-jalan ke kota tempat tinggalnya, tanpa berfikir panjang aku setuju dan ikut dengan Abdul dan kedua rekannya`

Akhirnya setelah berjalan menyusuri kerumunan para calon penumpang dengan diselimuti hawa panas kami mendapatkan bus yang cocok untuk di tumpangi, bus dengan arah tujuan Cirebon yang sempat kami konfirmasi ke awak bus bahwa mereka melewati kota Inderamayu, kami naik bus dan mencari tempat duduk yang nyaman, Aku sengaja memilih duuduk dibangku bagian depan karena tidak terlalu panas, maklum bus ekonomi kelas paling bawah jadi tidak bisa menikmati fasilitas AC, rutinitas dalam bus sudah bisa ditebak munculnya beragam daftar bawaan para penjual asongan serta genjrengan agak fals dan sumbang mengiri cuitan lagu demi lagi para pengamen jalanan.di suasana yang masih terasa gerah aku menerawang jauh kedepan dikerumunan orang dengan tentengan tas yang lumayan banyak di iringi sang istri yang lusuh dan kedua anaknya yang semakin terlihat dekil, mereka adalah calon calon penumpang yang dengan sabar berpanasan menunggu bis yang sejodoh dengan mereka.

Dibalik kerumunan berserak manusia itu lambat laun terbayang beragam kilasan peristiwa yang semakin lama semakin jelas, iya bayang-bayang beberapa hari lalu dimana semua itu terjadi, entah musibah atau memang kebodohanku, saat itu kenapa begitu mudahnya aku serahkan ikatan kertas uang lembaaran pada salah satu calo , karyawan agen ketenaga kerjaan yang memang mengurusi para pelaut untuk bekerja keluar negeri, "begitu bodohnya aku", terus kata kutukan itu tergiang - ngiang dalam benak, siapa yang pernah sadar dengan kecerobohan semua itu, untuk pasrah dan mengakui bahwa semua ini adalah suratan takdir amatlah berat. Berpuluh puluh juta uang itu raib dengan cepat tanpa menyisakan kepastian akan pekerjaan yang dijanjikan, padahal beberapa hari sebelumnya  aku telah membayangkan menginjakkan tapak kakiku ke salju yang turun dimusim dingin di jepang, kuraba lembutnya bunga sakura dan melihat kulit putih dan mata sipit para pendududk jepang, tapi semua itu musnah sirna seperti uap air dimalam hari tanpa menyisakan embun pagi.

Bus berjalan pelan keluar dari area terminal pulo gadung deru mesin terus bergemuruh seiring lajunya menyususri jalanan, dengan di iringi lagu pengamen jalanan udara yang kian lama terasa dingin mulai merubah suasana dalam bus, aku yang sedari tadi disibukkan dengan upaya menghalau panas dan pengab kini lambat laun mulai memakai jaket pertanda mengakui kekalahan oleh dinginnya angin malam. Semakin lama laju bus semakin kencang para penumpang sudah pada asyik dengan mimpi mimpinya tinggal tersisa beberapa orang yang masih terjaga termasuk aku yang masih dalam lamunan , terasa sesak didada untuk melupakan dengan segera permasalahan itu, fikiranku dan hatiku terus berperang logikaku terus berusaha menyalahkan keadaan, tapi tetap terbersit kepasrahan dalam jiwa ini untuk berusaha lapang menerima semua ini. Sayup - sayup kecepatan bus sudah mulai menurun hingga tak terasa bis berhenti ketika hendak memasuki pintu gerbang tol untuk menurunkan penumpang dan dibawah telah menunggu penumpang lainnya ingin ikut, sekitar lima orang perempuan muda. Dengan beriringan bagai para penari hendak masuk podium seni mereka memasuki bus satu persatu, berempat wanita dapat tempat untuk duduk dan wanita kelima terus berjalan kearah tempat dudukku karena memang aku duduk di bagian dua dari depan deret bangku sebelah kanan dan dudukku tepat di pinggir jalan lorong diantara kursi kursi penumpang , dia terus berjalan hingga berhenti di sampingku karena kursi kosong sudah terisi semua maka sang perempuan tersebut berdiri di lorong anatara kursi penumpang dengan berpegangan besi panjang yang membentang sepanjang bus diatas kami.

“Maaf mbak turun mana ?“ sahabat sebelahku menyapa , mungkin basa basi atau kasihan liat cewek yang masih muda berdiri tidak kebgaian kursi, atau juga memang sahabatku tertarik untuk membuka sebuah percakapan dengan perempuan muda tersebut.
“Turun cikampek kak“ balas singkat perempuan muda tersebut dengan ramah, sambil sedikit melebarkan senyum dan memperbaiki tas punggung yang ia kenakan agar tidak menggangu jalan. Karena memang bus sudah penuh dan biasanya awak bus masih akan terus  mencari dan menaikkan penumang di pinggir jalan jadi dipastikan akan banyak penumpang yang berdiri melihat tujuan bus juga masih jauh.
“sendirian aja ?“ lanjut sahabatku tersebut mengintrogasi
“iya, sendiri aja“ jawab perempuan muda itu singkat dan tidak fokus karena sembari menatap ke depan, mungkin dia agak malas untuk basa basi dengan penumpang lainnya. Aku yang duduk diantara mereka sebenarnya merasa agak terganggu dengan mereka, aku yang masih terus memikirkan beragam masalah yang telah menimpaku jadi terganngu pikiranku, aku liat perempuan muda itu tetap tenang berdiri dan kadang sedikit condong kedepan atau kesamping karena laju bus yang kencang sehingga kadang bus mengerem mendadak atau menyalip kendaraan lain. Disampingku sahabatku akhirnya kembali dengan musiknya yang ia dengarkan dengan MP3 player dengan earphone menempel ditelinganya mungkin dia berkata dalam hati “ ini perempuan cuek atau capek ya ? kok diajak ngobrol nggak begitu merespon, iya sudahlah aku dengerin musik aja “, akupun tersenyum kecil membayangkan itu, aku kembali melihat kearah perempuan tadi dan terus memikirkan perjalanan ini, jakarta ke cikampek lumayanlah jauh bisa 2 sampai 3 jam perjalanan, dia berdiri dengan tas yang dibawanya mungkin cukup berat jika dilihat dari bentuk tas tersebut yang padet penuh pasti akan mebuat dia capek menikmati perjalanan ini, sebenarnya aku mau cuek aja, kenal juga tidak fikirku, tapi lama lama kasian juga batinku. Aku lihat sekeliling tidak ada seorangpun yang menawarkan duduk buatnya, semua pada tenggelam dengan hidup masing masing.
“Neng, duduk sini aja kasihan masih jauh perjalanan dan kelihatannya bawaannya berat “ tawarku pada perempuan itu.
“Terima kasih kak, nggak papa emang ?“ jawabnya memastikan tawaranku tersebut, dari raut mukanya dia memang membutuhkan kursi untuk duduk dia terlihat capek dan agak bersungut sungut.
“iya, nggak papa neng, cikampek kan masih jauh, biar neng duduk dulu saya berdiri aja, ntar lok neng sudah turun baru saya duduk lagi“ terang saya meyakinkan agar dia merasa enak untuk duduk`
Akhirnya perempuan muda itu duduk dikursi yang tempat kududuk tadi tepat berada disebelah sahabatku yang kelihatan senyum senyum dan mungkin dibenaknya “ wah kesempatan akhirnya si doi duduk, bisa dijadikan teman ngobrol diperjalanan he he he“ aku tersenyum sendiri membayangkan itu betapa girangnya sahabatku bisa duduk dengan perempuan muda yang kelihatannya memang cantik, dari logatnya dan paras mukanya perempuan tersebut menunjukkan kalo dia orang yang ramah dan lembut, cikampek memang masih daerah jawa barat dan tentunya banyak juga berdiam orang sunda disana dari sekilas mungkiin dia perempuan sunda tapi entahlah, mungkin dia habis berkunjung ke saudarnaya dijakarta atau sekedar liburan disana, entahlah aku tak mau pusing memikirkan, aku lebih memilih untuk merenung sambil sekali kali meliaht keadaan sekeliling penumpang, saat mataku menyapu deretan sahabatku yang dua dibelakang mereka terlihat sudah terlelap dalam tidurnya , dengan mulut terbuka dan kepala bersandar disandaran kursi mereka asyik menikmati mimpinya akhirnya mataku kembali ke arah perempuan tadi dan sahabatku di sampingnya, aku lihat kini mereka akrab dan saling bercanda entah apa saja yang mereka bicarakan kelihatannya seru dan sahabatku ternyata berhasil membuka percakapan yang lebih seru dengan perempuan tadi, entah pa yang mereka obrolkan karena aku memang berdiri agak kebelakang tidak tepat disamping mereka`

“Sohib, pinjam HPnya dong !“ teriak sahabatku didepan mengagetkan lamunanku, sempat berfikir sejenak ada apa ni anak pinjam Hpku?, tapi sudahlah
“ini hib “. Aku menyodorkan HPku ke sahabatku, sohib adalah panggilan akrab kami.
Setelah Hpku ia pegang ia terlihat ngobrol dengan perempuan muda di sebelahnya mereka terlihat tukar menukar nomor HP, oh jadi si sahabatku ini hendak minta no HPnya perempuan muda yang duduk disebelahnya tapi dia simpan ke nomer Hpku, entahlah apa yang ada difikiran sahabatku itu.  Bus terus melaju dan tak terasa sudah sampai di cikampek dan bus pun berhenti untuk menurunkan penumpang sang kondekturpun memberikan informasi tersebut “ cikampek, cikampek ayo yang turun cikampek “ teriak kondektur membangunkan semua penumpang ditambah deru bis yang semakin melemah hingga bus berhenti menepi di pinggir jalan. Perempuan muda tadi saya lihat sibuk mempersiapkan diri untuk turun bersama penumpang penumpang yang lain, setelah para penumpang yang turun mulai habis maka perempuan muda tadi bernajak turun bis, tak lupa melambaikan tangan kepada saya dan mengucapkan terima kasih “ terima kasih ya kak “ kata terakhir sebelum ia berjalan kedepan hingga akhirnya menghilang dari pandnagan saya dengan meninggalkan senyum manisnya entah kepada saya, sahabat saya yang duduk disebelahnya atau kepada semua penumpang bis yang tersisa`
Setelah penumpang tujuan Cikampek  turun  semua, jam tanganku menunjukkan pukul 21.00 WIB, dua jam sudah perjalanan kami, bus pun melaju kembali menyisakan penumpang penumpang yang turun dikota selanjutnya, sekarang sudah tidak ada lagi yang berdiri karena semua sudah kebagian tempat duduk termasuk aku yang walaupun tidak duduk kembali ketempat semula tapi duduk agak lebih kebelakang, semenjak melajunya bus kembali dari cikampek lamunan demi lamunanku datang kembali memenuhi ruang fikiranku yang memang agak kosong, momok permasalahn itupun muncul lagi sampai bunyi genjrengan gitar mengagetkanku dan sang pengamenpun mohon izin untuk membawakan sebuah lagu menghibur para penumpang.
 “selamat malam, assalamualaikum bapak ibu, aa’ dan eneng, mohon maaf mengganggu perjalanan anda semua dan terima kasih kepada pak sopir dan para awak bus lainnya, kami disini datang untuk menghibur anda mohon maaf jika suara kuarang bagus maklum bukan pengamen aslinya, saya berharap keikhlasan anda semua untuk memberikan sedikit rizki anda pada kami, karena ikhlas bagi anda adalah halal bagi kami, selamat malam dan selamat mendengarkan tembang kenangan ini “ pembukaan sang pengamen sambil cengar cengir dan slengekan.
Kan kubawa wajahmu
Kan kubawa namamu
Kuingin tidur dan bermimpi malam ini
Disini di kamar ini sendiri melintas sepi
Kusut masam rambut dan gaun malam ku tak peduli
Disana kau berdua, disini aku sendiri
Disana engkau tersenyum disini aku yang menangis
Jangankan untuk bertemu
Memandang saja tak bolehapalagi bernyanyi bersama bagai hari lalu
Jangankan mengirim surat menitip salampun sudah tak boleh
Termyata memang kau tercipta bukan untukku
Kan kusimpan wajahmu kan kuukir namamu
Kan kubuktikan kesetiaanku padamu
Biarlahdisini sendiri merajut hari hari
Bukankah esok atau lusamatipun aku sendiri

Satu lagu berlalu dari pendengaran kami sayup sayup diiringi gitar dan terpaan angin malam lagu itu membawaku melamun menerawang jauh mengingatkanku akan masa masa dirumah masa masa yang indah bermain dengan sesama menggoda anak perempuan tetangga, lamunanku tersentak oleh todongan kantong plastik bekas bungkus permen relaxa yang dilipat ujungnya, iya kantong itu milik sang pengamen, sambil tersenyum dia menodongkan mengharap iba kami untuk membagi sebagian kecil rizki kepadanya, lalu aku masukkan selembar uang pada kantong tersebut, dengan ucapan dan senyum terima kasih pengemen itu pindah ke para penumpang lain. Setelah semua penumpang ia datangi pengamen itu bergegas pergi kedepan dana bilang pada sang kondektur untuk turun tak lupa menyampaikan ucapan terima kasih kepada kami semua, dan senyumnya hilang di telan angin malam.
Perjalananpun terus melaju aku terdiam dan membisu tak banyak yang kukerjakan hingga sayup sayup mataku terkatup dan akhirnya aku tertidur dengan segudang lamunan dan fikiran fikiranku sendiri hingga aku tersadar dibangunkan ke tiga sahabatku “ sohib, sudah sampai Indramayu, ayo bangun kita turun “ Sahabatku abdul membangunkanku mengajak aku turun. Sampailah kami berempat di Indramayu, ini adalah pengalaman pertama aku menginjakkan kaki di Indramayu.

Komentar