Tidak jadi sekolah di Surabaya

Pengumuman kelulusan sekolah telah disampaikan,  nilai-nilai Danem ( daftar nilai Ebtanas Murni ) telah di pambang, kami ramai-ramai kesekolah, papan pengumuman di kantor sekolah MTs Diponegoro Tegalsari Banyuwangi  adalah target yang akan kami serbu, iya disitu terpampang hasil nilai nilai ujian atau waktu itu biasa disebut dengan DANEM, iya tahun itu dua ribu satu masih memakai sistem ujian EBTANAS , dimana nilai yang terpampang adalah hasil nilai murni ujian kami. berpasang-pasang mata melotot melihat melihat hasil jerih payah mereka belajar selama ini, "Teguh tuh nilaimu diatas sendiri" ada teriakan teman dibelakangku menuntun mataku mendongak keatas, lega rasa hatiku menyaksikan nilaiku nangkring disana, tenang damai, akhirnya jerih payahku ujian dan belajar terbayar sudah, walau nilai tersebut belum sesuai ekspektasi aku waktu itu, tapi rasa syukur terus aku panjatkan pada Tuhan yang maha kuasa  ini semua adalah hasil belajar keras dan sowan ke pusara Kyai sepuh hatiku berbisik he he he he.

Sejakb pengumuman itu dipampang aku mulai mempersiapkan diri hendak melanjutkan kemana aku setelah ini, seperti yang telah aku sampaikan bahwa aku berencana untuk sekolah kejuruan dibidang pelayaran, hal itu sudah aku sampaikan ke kedua orang tuaku, respon positif tetap beliau kasihkan walau mungkin ada rasa iba dan khawatir kalau aku harus melanjutkan sekolah ke kota yang jauh dari kampungku, iya aku izin ke mereka hendak melanjutkan sekolah ke Surabaya dimana disana ada sekolah Pelayaran menengah , tempat para taruna-taruni pelayaran ditempa untuk menjadi awak kapal pelayaran niaga, keren waktu itu yang ada dibenakku, lulus bisa langsung kerja dan bisa berkeliling Indonesia mengabdikan diri pada samudera.

Aku terus mencari informasi tentang sistem pendidikan dan apa saja terkait sekolah yang hendak aku datangi, semua informasi yang bermanfaat dan aku anggap bisa membantu aku tampung demi kelancaran aku melanjutkan studi.

Waktu itu bapakku sedang bekerja keluar negeri menjadi TKI di negara Malaysia, aku izin ke beliau hanya via telepon, saat aku menyampaikan izin itu, ada nada berat dari suara beliau, mungkin hendak melarang tapi karena begitu cintanya beliau ke anaknya jadi tak kuasa melarang niat dan cita cita anakknya. Beliau hanya berpesan " kamu adalah mutiara Bapak, walau suatu saat nanti kamu terbuang dalam lumpur yang pekat, kamu akan tetap menjadi mutiara yang terus bersinar " , sebuah pesan yang begitu dalam bagiku.

Hari pendaftaran sekolah mulai dekat, segala sesuatu telah aku persiapkan, kurang satu minggu dari rencana keberangkatanku ke surabaya untuk daftar sekolah, ibu tiba tiba memberi tahuku bahwa di Banyuwangi ada sekolah pelayaran, jadi ibu berharap padaku untuk tidak jauh jauh sekolah ke surabaya, dengan berbagai alasan ibu menjelaskan kepadaku, akupun akhirnya mengikuti saran beliau, dan ketika bapak mendengar berita itu maka bapakpun menyarankan untuk sekolah di Banyuwangi saja, akhirnya dengan berat hati aku urungkan niat sekolah di Surabaya dan Aku memilih ekolah di Banyuwangi, aku berprinsip apa yang membuat kedua orang tuaku Ridlo pasti akan mempermudah jalanku kedepan.

Komentar