Pusara Kyai Sepuh
Awal tahun ini tahun dua
ribu satu adalah hari sibuk-sibuknya kami menyiapkan diri untuk mengikuti
perhelatan akbar tahunan yaitu ujian akhir yang biasa kita kenal dengan EBTANAS
( evaluasi tahab akhir nasional ) tingkat SLTP, berbagai macam persiapan kami
lakukan, iya kami yang terdiri dari empat orang siswa Madrasah Tsanawiyah Islam
milik Yayasan Islam Diponegoro di desaku, kami berempat memang sepakat untuk
menyiapkan semua ini bersama, dimana kebersamaan kami sudah lebih dari sekedar
teman sekelas tapi sudah mirip bagai saudara, saya Teguh, ruken, ahsay dan
Misbah sudah layaknya saudara rumah mereka adalah rumahku begitupun sebaliknya,
bahkan keluarga kami sudah layaknya saudara.
Bicara tentang persiapan
ujian akhir ada hal menarik yang kami lakukan hal mungkin dikalangan lain
dianggap aneh, mistis dan mungkin ada yang bilang syirik, tapi bagi kami dan
sebagian masyarakat di lingkungan kami hal-hal seperti yang kami lakukan adalah
hal yang biasa buah dari keyakinan dan kepatuhan akan dawuh-dawuh para ulama
atau orang-orang alim di kampong kami. Selain belajar bersama , mengaji bersama
yang biasa kami lakukan di Masjid DarusSuban Desa Tegalsari setiap Malam Jumat
atau malam Minggu, kami juga melaksanakan wiridan atau zikir yang biasa kita
kenal dengan nama Istighosah yaitu sebuah kegiatan melafalkan ayat-ayat tuhan,
pujian-pujian kepada tuhan, mengagungkan nama tuhan dan Nabi pembawa risalah,
dimana istighosah sederhana itu kami lakukan di komplek pemakaman kyai sepuh
didesa kami dan berpindah-pindah karena di Banyuwangi kota kelahiran kami
khususnya didesa kami terdapat banyak makam kyai sepuh pendiri Pondok Pesantren
salafi, tapi dari semua makam kyai sepuh itu satu makam atau pusara yang sering
kami singgahi untuk beristighosah bersama.
Kegiatan istighosah rutin
yang sering kami lakukan adalah sebuah usaha kami menjernihkan fikiran,
menenangkan jiwa dengan lantunan ayat-ayat tuhan di pusara atau tempat yang
tenang karomah dari kyai sepuh yang semasa hidupnya banyak menanamkan ilmu dan
manfaat,. Pusara Kyai Haji Abdul Majid Krasak tegalsari di komplek Pondok
pesantren Mambaul Huda Krasak Tegalsari Banyuwangi adalah tempat yang paling
sering kami kunjungi, selain Almarhum adalah kyai sepuh kharismatik serta
legendaris di kampong kami tempat pusara tersebut terletak di atas bukit agak
tinggi di kelilingi sawah luas dan sungai-sungai kecil agak jauh dari
perkempungan bahkan pondok besar. Pusara dikelilingi musholla dan pemondokan
kecil untuk para santri pondok beristirahat , berdiskusi, mengaji, bermunajat
dan beriyadoh yaitu menyendiri mengaji dan mengkaji ilmu yang telah mereka
terima. Tempatnya damai, sejuk dan menentramkan jiwa walau mungkin bagi
beberapa orang terkesan sepi dan angker tapi bagi kami ini tempat paling pas
untuk merenung, menata ulang tujuan berfikir dan berjalan kehidupan kami,
mendekatkan diri pada Sang khalik serta mengingat teladan dan perjuangan kyai
sepuh.
Selain istighotsah dan
mengaji bersama kami juga belajar bersama , semua pelajaran yang diujikan kami
perdalami dan kaji ulang bersama-sama di tempat tersebut. Biasanya kami
bersangkat habis maghrib kamis malam
kami berempat naik dua sepeda kayuh ( ontel ), karena lokasi dekat dengan rumah
kami sebelum isyak kami sudah sampai, sampai pusara kami ikut sholat berjamaah
Isya dan setelah sholat kami berbincang dengan kang pondok penjaga Pusara
tersebut dan memohon izin untuk menginap di tempat tersebut. Setelah mendapat
izin kita cari tempat untuk belajar dan beristirahat malam biasanya kami pilih
sebuah surau kecil yang tidak di tempati oleh para santri yang menetap disitu,
kami mulai kegiatan dengan belajar bersama, semua buku pelajaran kami buka dan
kami diskusikan diselingi dengan cerita-cerita tentang sehari-hari hingga
cerita tentang kisah-kisah melirik serta mengidolakan gadis teman kami sekolah,
tapi kadang cerita tidajk jauh dari hal-hal berbau karomah atau kelebihan dari
kyai-kyai sepuh. Kegiatan belajar bersama kami langsungkan hingga pukul sepuluh
malam dan kami putuskan untuk istirahat, berbekal sarung yang sudah lusuh kami
tertidur berbantalkan kayu, sebuah bantal yang tersedia di situ , bantal yang
biasa dipakai tidur para santri, bentuknya balok dan di beri cekungan di
tengahnya untuk menaruh kepala.
Pukul kosong-kosong kami
terbangun, kami tidak pernah pasang alarm atau dibangunkan tapi dengan serentak
bangun sendiri, ada doa dan ritual unik sebelum tidur yang kadang kami amalkan
yaitu membaca dalam hati surah alfatihah sebanyak dua puluh satu kali dan
berdoa sambil menahan nafas agar dibangunkan sesuai waktu yang kita inginkan,
tapi kadang jika sudah ngantuk kami langsung pulas lupa berdoa, tapi tetap saja
bangun tepat pukul kosong-kosong kayak otomatis ada yang membangunkan. Saat waktu
bangun ada peristiwa yang aneh dan buat aku tercengang pernah suatu waktu aku
terbangun dan didepan surau berdiri seorang kakek tampan dengan berkalung
surban dileher tangan kanannya teruntai tasbih, dari sorot wajahnya dia orang
yang kharismatik, tapi aku jarang liat beliau ketika aku sholat di sini dari
pertama kali kami kesini, beliau tersenyum dan bilang “ terusno le lelakumu,
ojo dilereni “ ( teruskan nak apa yang engkau lakukan jangan berhenti ) aku
belum sempat jawab beliau tersenyum dan pergi meninggalkan kami hingga saat
ketiga kawanku terbangun bayangan beliau telah hilang ditelan gelapnya malam
dan yang ku ingat bayangan beliau menuju bangunan utama yaitu pusara sang kyai.
Peristiwa aku didatangi
sosok kakek tersebut aku simpan saja, dan ketika kami sudah bangun semua kami
ambil air wudhu terus berempat menuju bangunan utama pusara sang kyai disitu
terdapat makam bersih terawat, dikelilingi rak-rak berisi Kitab suci Al quran,
terkesan terawatt rapi, sejuk, dan mendamaikan, kita mulai dengan membaca
ayat-ayat tuhan mulai menghadiahkan fatihah buat Nabi dan semua orang alim dan
terkasih dan khusunya buat sang kyai, kegiatan istighosah ini biasa sering
dipimpin oleh Ahsay karena dia anak yang paling alim dan memiliki figure ustaz
dari pada kami lainnya. Kegiatan tersebut kmai langsungkan hingga menjelang
subuh diselingi sholat malam beberapa rakaat. Selesai kegiatan kami sholat
subuh berjamaah dengan para santri yang menetap di pusara sang kyai. Banyak hal
yang menarik saat istighosah kadang saya terkantuk-kantuk tak sadar hingga
tertidur dan ketika bangun adan subuh telah terdengar, memang rasa damai yang
berefek pada jernihnya kami dalam berfikir terasa banget saat kami sering
melakukan kegiatan tersebut.
Banyak peristiwa yang kami
lalui, kejadian lucu juga kadang hadir disela-sela kebersamaan kami saat kami
hendak pergi atau pulang dari tempat-tempat keramat tersebut, pernah suatu pagi
sehabis subuh kami sepulang dari pusara sang kyai kami naik sepeda beriringan
lewat kampong yang disitu banyak penduudknya yang memelihara anjing, pagi-pagi
buta kami digonggongi dan dikejar-kejar anjing kami kayuh sekencang mungkin
sepeda kami hingga nggak sadar sarungku yangkut rantai dan terbelit hingga saya
dan ruken yang memboncengku terperosok ke parit pinggiran jalan, untung sang
anjing tidak lagi mengejar, tapi sarung yang ku pakai sudah terkoyak hingga
terbelah dua, dan kami berempat tertawa sepanjang jalan sampai rumah ruken yang
paling dekat dengan pusara. Si misbah nyeletuk “ itu gara-gara kamu ngorok di
makam jadi dikejar anjing ha ha ha ha “
kami berempat ketawa ria hingga perut terasa sakit. Banyak hal yng buat
kami ceria dan semangat dalam menempuh perjalan hidup kami menanti saat ujian datang,
sebuah pengalaman seru, kenbersamaan , keakraban hingga pengalaman spiritual
yang kami lakukan. Tapia da hal yang terus jadi tand atanya siapa kakek tua
yang menemuiku di malam itu karena saat sholat subuh dan beberapa hari ketika
kita sering ke pusara tidak pernah aku lihat lagi sosok kakek itu, entah itu
ghoib atau apalah tapi kesan kebersamaan dan kedekatan diri dengan sang
pencipta telah membawa kedamaian dan ketenangan kami.
Komentar
Posting Komentar