SAAT KAU SAKIT

sehari sakit, mengingatkan seribu hari sehat yang tak disyukuri.

Sudah Hampir sebulan  kau sakit. selama itu pula kau tak masuk kerja. Badanmu demam, perutmu sakit, tensimu rendah, kau didiagnosa ada permasalahan pada lambungmu  malangnya lagi semua itu tak mau buru-buru pergi dari tubuhmu. Ia seperti mendapati tubuhmu sebagai tempat yang nyaman untuk bersarang. Kau  ingat saat itu tubuhmu seperti beban buat dirimu sendiri. Membawa tubuhmu untuk berjalan saja rasanya seperti membawa puluhan orang di atas pundakmu. Berkali-kali kau memuntahkan apapun makanan yang telah kau makan, apalagi obat yang kau minum. Bau obat amat merangsang penciumanmu. Sangat sensitif, hingga kau tak mampu melawannya. Ranjang empuk yang biasanya menemanimu saat penat setelah kerja kini terlihat menyiksamu seolah - olah ranjang pesakitan yang senatiasa mencemoohmu. walau kadang ranjang itu terligat putih bersih yang selalu diganti oleh peri - peri cantik yang senatiasa merawatmu tapi kau tetap tertunduk lesu.

Perutmu selalu terasa mual. Tak ada satupun makanan yang bisa membangkitkan gairah makan orang sakit. Kau tak berani memikirkan hal-hal yang terlalu berat, takut itu akan menambah rasa sakitmu. Sebab sehari sebelumnya kau bermimpi tugas-tugas di kantor itu telah menjadi monster yang memakan habis hari-harimu. Kau tak ingin memikirkan apapun, tapi semakin tak kau pikirkan, semakin mereka berkeliaran di kepala. Kau tahu, kau tak mengundangnya, tapi mereka seperti capung-capung yang berterbangan di musim kemarau. Berputar-putar, berpusing-pusing di kepalamu. Bahkan kau yang biasanya kutu buku, yang tak mau membiarkan waktu luangmu hilang kecuali dengan buku, tak juga mau menyentuh buku. Kau takut konflik-konflik dalam novel yang kau baca malah akan menambah rasa sakitmu. Menonton televisipun tidak, karena cahaya televisi hanya akan membuat kepalamu seperti dijejali benda-benda asing yang siap meledak. Ini gila! Pikirmu.

Kau hanya bisa berbaring sendirian di kasur yang kesayanganmu dan tak jarang kasur seprei putih milik villa rumah sakit kau tempati. Sebuah bantal, sebuah guling, sebuah selimut. Tak ada orang tua, tak ada saudara, tak ada kekasih yang mengurusmu. Mereka jauh. Mereka semua jauh, jauh fisik, jauh hati. Ah tapi tidak dengan ibu. Tadi pagi dia telpon, menanyakan kabarmu. Mengkhawatirkanmu. Menyuruhmu meminum obat dan jangan memuntahkannya lagi, tapi kau gagal. Di saat-saat seperti itu betapa kau sangat rindu ibumu. Rindu ketika dia membuatkanmu teh manis dan menyediakan roti ketika kau sakit. Rindu ketika dia memijit kakimu yang sebenarnya tak berefek banyak pada sakitmu, tapi kau menyukainya. Ah, tapi yang harus kau hadapi sekarang adalah menyiapkan minum sendiri, mencari makanan sendiri, melawan sakit itu sendiri walau kadang peri - peri cantik membantumu tapi itu semua nggak bisa menggantikannya. tapi setiap saat mereka juga datang menjengukmu menemanimu dengan tetesan air mata.

Di saat seperti itu, tiba-tiba saja kau begitu merasa sendiri. Begitu merasa takut jika saja Dia Yang Mengendalikan Segala Sesuatu itu menghendakimu sekarang. Kau merasa masih begitu kotor, meski kau tak pernah yakin akan bersih. Kau ingat tentang orang-orang yang hari ini cuma sakit biasa-biasa saja, lalu besoknya meninggal hanya karena demam atau semacamnya. Mengerikan jika itu terjadi padaku, pikirmu. Lalu kau coba mengingat-ingat apa saja yang telah kamu lakukan, apa yang telah kamu capai hingga umurmu saat ini. Begitu jauh, begitu jauh dari mimpi.

Di saat-saat seperti ini kau merasa betapa sayangnya hari-hari sehat yang telah kau lalui dengan hal-hal percuma di masa lalu. Kau ingin memanggil mereka kembali. Di saat seperti ini kau merasa  sehari sakit adalah waktu yang digunakan manusia untuk menembus beberapa galaksi. Lama sekali. Kau begitu menyadari bahwa jika saat itu kau diangkat jadi rajapun kau tak akan bisa menikmatinya, karena sakit mementahkan segala kesenangan dunia. Bahkan kau sempat berpikir seandainya Tuhan menyuruhmu memilih umur seribu tahun tapi sakit, atau setengah hari tapi sehat, kau akan memilih yang terakhir.
Kau terpejam, mengingat hari-hari indah yang telah kau lalui, lalu menyerahkan semuanya kepada Yang Memberi Sehat dan Sakit.

Semua ini adalah maha kuasanya, kembalikan pada Dia sang penggenggam jiwa...

Semangat dan Berdoalah,..

- Nawawi -

Komentar